Thursday, October 8, 2015
habis perkara
Kau berpikir soal perasaan, Aku berpikir bagaimana untuk menyambung hidup. Habis perkara.
Thursday, October 1, 2015
gerak, langkah, goyah
Langkah-langkah tergerak dalam irama nyanyian camar di tepian senja.
Bukan hati ingin jadi juara namun logika pasti selalu bertanya
Bukan soal keberadaan namun hakikat dari sebuah materi bukan soal das sein atau das solen, tapi soal apa dan bagaimana
Langkah-langkah bergetar dimalam kala bulan tak bercahaya
Sunyi senyap dalam jalan lurus tanpa asa
Bukan ingin menghamba pada logika tapi satu ditambah satu sementara jadi dua
Langkah-langkah goyah dalam kata berawal dari ada jadi tiada berawal dari tiada menjadi ada
Bukan proses namanya jika tidak jadi alibi semua tidak samar atau gamang hanya buta dalam kegelapan
Ah, bahkan algojonya berkata aku mencintaimu dalam gerak getar dan goyah
Bukan hati ingin jadi juara namun logika pasti selalu bertanya
Bukan soal keberadaan namun hakikat dari sebuah materi bukan soal das sein atau das solen, tapi soal apa dan bagaimana
Langkah-langkah bergetar dimalam kala bulan tak bercahaya
Sunyi senyap dalam jalan lurus tanpa asa
Bukan ingin menghamba pada logika tapi satu ditambah satu sementara jadi dua
Langkah-langkah goyah dalam kata berawal dari ada jadi tiada berawal dari tiada menjadi ada
Bukan proses namanya jika tidak jadi alibi semua tidak samar atau gamang hanya buta dalam kegelapan
Ah, bahkan algojonya berkata aku mencintaimu dalam gerak getar dan goyah
larungkan caci
Bukankah sudah kau layangkan tamparan itu kepadaku padahal waktu yang mengelilingiku terus berayun pada bandul waktu, menghentak ketakutan di caci hari.
Karena aku tidak mampu menghentikan masa yang terus bergetar.
Sedangkan di setiap tangis meleleh menyengat apa saja yang hanya dari muka, aku tidak peduli dan tak bisa memaknai air mata.
Aku membendung dan merobek cacianmu yang rapuh dan membusa di ujung bibir aku mengeja dan merontokkan kata dan kalimat yang kau keluarkan, tak hanya itu, aku menghadirkan kembali apa yang ingin kau beri
...kesejahteraan....
...mimpi...
...dan segala janji...
Semua itu kusiram dengan darah dan amarah, ditambah koyakan tubuh yang selalu dituntut membisu dan tidak berhak atas apapun tentangmu,, lalu kubakar, kujadikan api agar cacianmu dibawa awan dan dibaca malaikat.
Biar waktu tahu kau sering ditipu, biar waktu tahu laporannya selama ini padanya omong kosong
Kini mataku nanar disaput jelaga; pedih namun setidaknya waktu sudah kukembalikan penjaga waktu biar masa cepat lalu bersama sakit yang hilang karena maut
Tidak..
Aku tidak menangis.
Karena aku tidak mampu menghentikan masa yang terus bergetar.
Sedangkan di setiap tangis meleleh menyengat apa saja yang hanya dari muka, aku tidak peduli dan tak bisa memaknai air mata.
Aku membendung dan merobek cacianmu yang rapuh dan membusa di ujung bibir aku mengeja dan merontokkan kata dan kalimat yang kau keluarkan, tak hanya itu, aku menghadirkan kembali apa yang ingin kau beri
...kesejahteraan....
...mimpi...
...dan segala janji...
Semua itu kusiram dengan darah dan amarah, ditambah koyakan tubuh yang selalu dituntut membisu dan tidak berhak atas apapun tentangmu,, lalu kubakar, kujadikan api agar cacianmu dibawa awan dan dibaca malaikat.
Biar waktu tahu kau sering ditipu, biar waktu tahu laporannya selama ini padanya omong kosong
Kini mataku nanar disaput jelaga; pedih namun setidaknya waktu sudah kukembalikan penjaga waktu biar masa cepat lalu bersama sakit yang hilang karena maut
Tidak..
Aku tidak menangis.
Wednesday, August 5, 2015
August 5
Saya melihat kegelisahan di hari-hari belakangan. Entah, ada sesuatu dalam diri yang ingin menyeruak keluar dan menjadi penguasa atas diri saya. Barangkali saya sedang jumud dengan situasi saat ini sehingga saya membutuhkan suatu hal untuk membangkitkan semangat saya lagi.
Seperti kemarin, saya harus mengajar disebuah kelas untuk karyawan baru, ada enam karyawan dalam kelas saya. Saya kurang cukup semangat kali ini, meski tidak saya tunjukkan. Setiap kali saya ingin waktu berlalu dengan cepat. Saya ingin waktu istirahat dan pulang bisa tiba dengan cepat. Entah
Tuesday, August 4, 2015
Tentang Kehadiran Diujung Waktu
Terik siang tadi adalah masa dimana aku ingin tertawa dalam deretan langkah kecil yang tercipta. Tertawa karena dia muncul diantara langkah kita, yang melaju kekiri dan kekanan, sesekali memicingkan mata kebelakang. Entah apa yang kita cari, entah apa yang kita lihat. Mungkin saja itu bayangan, atau pengintai yang penuh tanya atas situasi siang tadi.
Aku dan kamu, memojokkan diri dalam ruangan sesak, kau goda aku, aku goda kau balik. kau bercerita tentang kisah dan roman picisan. kau bercerita soal usaha dan daya upaya yang terbantahkan oleh rasa. Kau bercerita tentang peluang dan bercerita tentang perjalanan pulang. Sementara aku adalah pendengar, sesekali aku berpendapat dalam himpitan pertanyaan dalam hati. Ah, barangkali suhu ruangan itu membuat otakku tidak bekerja normal, logika seakan terbunuh rasa. Aku ambil kendali atas diriku yang melesat terlalu jauh pada pertanyaan-pertanyaan menjebak. Bukan, itu hanya sebatas retorika namun bukan tanpa makna.
Sempat kau tepuk pundakku, tak kuasa aku berkata. Tersenyum satu-satunya yang bisa lakukan, lalu pengalihan. Sesekali ku pandang wajahmu yang ceria penuh tawa. Lalu kubuang wajahku jika aku rasa kau mulai curiga, sebelum aku malu. Maaf jika aku menjadi pencuri, pencuri detik-detik untuk memandang wajahmu.
Ada hal yang sering kali terlewatkan dalam hidup. Barangkali ini seperti kepingan puzzle yang hilang sementara waktu sudah hampir sampai pada ujungnya.
Friday, January 31, 2014
Tentang Cerpen "Sepasang Kaus Kaki Hitam"
Sudah beberapa hari setelah saya membaca sebuah kisah dari "pudjangga lama" yang berjudul "Sepasang Kaos Kaki Hitam" entah kenapa saya selalu terngiang-ngiang dengan kisah itu. Barangkali memang kisahnya yang terlampau pilu, meski tanpa happy ending, namun agaknya akhir cerita itu menjadi ending yang sempurna bagi masing-masing tokoh,
Mevally, adalah sosok wanita yang membuat saya penasaran. Dengan pribadi yang misterius yang dibentuk dari masa lalu yang cukup kelam, namun semuanya membuat perempuan ini makin matang, penuh prinsip dan filosofi.
Ari, sosok lelaki yang cukup bijak dengan segala bentuk kekonyolannya namun memberi saya banyak inspirasi dengan celetukan-celetukannya.
Kedua tokoh itu selalu berlari-lari dikepala saya sepanjang malam tadi, sampai saya tidak bisa tidur sampai dengan fajar datang. Dari sekian banyak Novel, Cerpen dan kisah yang pernah saya baca, kisah dari pudjangga lama ini adalah kisah yang benar-benar merangsak ke otak saya. Entah bagaimana si empunya kisah menuliskan kisahnya dengan bahasa sederhana dan membuat seolah saya ada disana, menatap mereka berdua disetiap peristiwa, disetiap suasana, disetiap bentuk ruang yang digambarkan.
Kisah ini memang tentang cinta, cinta platonic. Yap, Cinta Platonic atau Cinta tak harus memiliki. Cinta Mevally dan Ari selalu berada pada batas garis abu-abu prinsip yang mereka anut. Yah, prinsip memang sering kali membuat kita naïf dan melacurkan diri pada kegamangan. Satire memang, tapi itulah kehidupan. Cinta tidak selalu bisa memenangkan segalanya, tetapi Cinta bisa membuat kita belajar, belajar untuk makin bijak dan dewasa dalam memandang hidup. Cinta mengajari kita bagaimana caranya bangkit setelah sedetik lalu kita jatuh. Cinta mengajari kita bagaimana caranya berkorban.
Ahhh,,, saya jatuh cinta pada tokoh Mevally, jatuh cinta pada kepribadiannya, prinsipnya, dari bagaimana dia memandang hidup, dan jatuh cinta dari caranya memilih jalannya untuk melewati tiap kotak demi kotak kehidupan.
Terima kasih Pudjangga Lama atas sepenggal kisah yang kau bagi. Sungguh saya terenyuh.
Thursday, October 20, 2011
Sinopsis S W O T (sumpah ini iseng)
Kisah dua orang mahasiswa cukup semester dalam usaha-usahanya mencari pacar…
Tersebutlah Iis dan Pram. Hidup di lingkungan sebuah kampus ilmu sosial dan politik, dimana waktu efektif kuliah lebih sedikit ketimbang waktu senggang. Dalam 12 jam pagi sampai sore, hanya 4 jam yang di gunakan untuk kuliah (itu pun sudah paling padat). Tak heran mereka cukup cakap dalam bergaul, bergosip, berbengong-bengong, dan tentunya sering pula secara sengaja dan rutin menikmati keindahan dari Nya. Ngecengin perempuan-perempuan kece di kampus. Hanya itu yang mereka bisa, karena untuk memiliki salah satu dari keindahan tersebut merupakan hal yang sulit.
Sebetulnya kedua mahasiswa tersebut adalah mahasiswa yang cukup cerdas dan bersemangat. Bersemangat saat tahun ajaran baru, mengamati dan mengomentari perkembangan perempuan-perempuan dari tahun ke tahun. Cerdas mengimplementasikan ilmu yang mereka dapat di kelas dalam usaha mendapatkan kekasih hati.
Taat metodologi itulah prinsip mereka, karena mereka hidup di dunia kampus, dunia dimana hal-hal yang rasional dan ilmiah yang dapat di terima (seenggaknya begitulah menurut mereka). Berikut adalah metode, alat analisis, dan usaha mereka dalam mendapatkan pacar.
Pengamatan
Dilakukan penuh semangat oleh mereka saat awal semester baru. Dimana banyak perempuan-perempuan muda yang masih segar berkeliaran di kampus (mahasiswi baru). Bangun pagi meski tak ada kuliah, berangkat ke kampus dengan dandanan dan kerapihan yang maksimal untuk sekedar tebar pesona (walaupun mereka gak punya pesona apapun).
Mengamati dengan detail tiap mahasiswi baru, dan memilah-milah mana yang bisa membuat jantung mereka bergetar. Biasanya dengan cepat mereka akan mendapatkan mahasiswi mana yang “gw banget” untuk di bawa ke forum yang lebih serius lagi. Forum diskusi dengan para akademis dan aktifis kampus untuk membuat kajian strategi yang akan mereka lakukan dalam rencana tindak lanjut.
Kajian Strategi (SWOT)
Setelah pengamatan yang detail, Iis dan Pram akan selalu melibatkan teman-temannya dalam melakukan analisis. Menentukan strategi apa yang akan digunakan untuk mendekati sang pujaan hati. Dengan metode SWOT (Strength Weakness Opportunity Threat), metode analisis organisasi yang di terapkan dalam kehidupan pribadi. Mulai dari mencari tahu kekuatan diri sendiri, kelemahan diri sendiri, peluang yang bisa didapatkan, serta ancaman yang akan terjadi.
Dalam melakukan kajian strategi ini biasanya mereka akan dipimpin oleh salah seorang teman yang ahli dalam SWOT. Dan beberapa teman lain untuk menambah masukan-masukan. Tentu saja dalam suasana serius yang ceria di temani minuman hangat khas daerah setempat.
Kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman mereka yang hampir sama tidak menyulitkan dalam melakukan analisis. Seperti kekuatan mereka hanyalah:
• Lucu
• Mudah bergaul
• Perhatian
• Menonjol di lingkungan kegiatan dan organisasi kampus
Kelemahan mereka yang lumayan banyak dan sangat sama seperti:
• Tampang, jauh dari kesan tampan
• Kere, sering kekurangan uang, dan hobi menghutang
• Tidak punya kendaraan pribadi untuk menunjang mobilitas mereka dalam
menjalin hubungan
• Peminum (jika tidak dapat dikatakan pemabuk)
• Tidak menonjol dalam hal akademis
• Jarang mandi
• Jarang rapih,
• Sering lebay sehingga tak dapat memposisikan diri di hadapan pujaan hati
• Kurang pede, dan masih banyak lagi
Peluang mereka pun tampaknya sedikit, seperti:
• Punya banyak teman, mulai dari aktifis, akademisi, musisi, seniman, tukang
rames, tukang becak, pemuda-pemudi sekitar kampus, dan sebagainya
Ancaman mereka:
• Pengaruh zaman yang semakin modern
• Saingan yang lebih, dalam segala hal ketimbang mereka. Lebih banget malah
kekuatannya. Mulai dari fisik, harta, bahkan kepribadian yang sangat
menarik
Proses Menjalankan Strategi yang Sudah dibahas
Karena Iis dan Pram hampir mempunyai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang hampir sama,. Maka tidak sulit menemukan strategi untuk mereka berdua. Seperti, mereka di tuntut lebih kreatif buah dari seringnya mereka berinteraksi oleh individu-individu dari berbagai golongan. Dapat memanfaatkan banyaknya teman, seperti meminjam barang-barang yang menunjang perjuangan mereka untuk mendapatkan pacar. Minta pertolongan teman-teman ketika ‘ancaman’ mereka telah menjadi ancaman yang benar-benar mengancam keselamatan mereka.
Gaya Iis dan Pram pun tak banyak berbeda dalam menjalankan strateginya dalam mencari pacar. Ciri khas Iis adalah sering sekali salah persepsi dan salah melangkah. Iis adalah seorang aktor teater handal yang mampu membuat para perempuan menahan napas dan terkagum-kagum padanya, tapi hanya pada saat Iis sedang berada di atas panggung. Banyak perempuan yang mendekatinya, dengan maksud berteman. Hanya teman, tidak lebih. Sampai akhirnya kundur jatuh hati pada salah satu perempuan tersebut. Kita sebut saja ‘Kamboja’.
Standarlah gaya Iis dalam mendekati sang ‘Kamboja’. Sering smsan, sering bercanda, dan saling memberikan perhatian. Hampir dipastikan kundur tetap menjadi dirinya sendiri. Yang fatal adalah bahwa kundur menyukai seorang perempuan yang sudah mempunyai pacar. Kundur pun mengetahui hal itu dan memaksakan dirinya pula untuk tetap mendekati perempuan tersebut. Hasilnya, hanyalah sakit hati yg sulit terobati…anyiiiing…wasit goblog…!!! (wonge nulis dewek kie)
Lain ladang lain belalang, lain juga apa yang dialami Pram. Ketimbang Iis, Pram lebih perhitungan dalam menjalankan strategi-strategi yang telah dibuat. Tipikal Pram adalah menunggu moment. Cenderung pasif, gagap, takut, dan hanya memikirkan saja, tanpa di lanjuti tindakan konkret.
Sebut saja ‘Melati’, perempuan yang di dekati Pram adalah seorang perempuan yang lebih senang berkutat dengan kuliah., ujian, dan tugas. Sosok perempuan yang tampaknya tomboy dan berwawasan luas. Sering salah tingkah adalah hal yang pasti terjadi ketika Pram berjumpa dengan ‘Melati’, yang akhirnya malah membuat sang ‘Melati’ muak, dan ifeel. Sangat mengganggu, ketika Pram sms sang ‘Melati’. Karena saat Pram melancarkan serangan sms, rupanya sang ‘Melati’ sedang belajar untuk menghadapi cobaan hidup, yaitu ujian, atau saat Pram sms saat dia sedang mengerjakan tugas-tugasnya. Alhasil, tertutuplah pintu hati sang ‘Melati’ untuk Pram. Rasa muak tampaknya telah menguasai hati sang ‘melati’, hingga Pram pun sakit hati. Lagi… dan lagi….
Evaluasi
Proses yang penuh canda, kebahagia, perjuangan, dan di akhiri dengan derai air mata dan hati tersayat-sayat telah di lalui Iis dan Pram. Kegagalan adalah hasil akhir yang diperoleh mahasiswa cukup umur ini. kembalilah mereka berdua pada kenyataan bahwa akhirnya mereka tetap sendiri. Evaluasinya:
1. Iis dan Pram kurang percaya diri. Mereka berdua cenderung selalu melupakan bahwa sebetulnya mereka memiliki kemampuan yang bisa di tonjolkan untuk memikat hati para perempuan.
2. Tidak dapat menguasai emosi diri sendiri. Alhasil mereka malah di mainkan emosinya oleh para perempuan yang mereka dekati. Seperti uringa-uringan kalau smsnya tak di balas, dan akhirnya mereka memaksa untuk sms, dan tenyata waktunya tidak tepat.
3. Bahasa verbal dan bahasa tubuh mereka sering kelewatan, akhirnya membuat perempuan yang di dekati merasa muak alias ilfeel.
4. Terlalu takut kehilangan, padahal perempuan tak cuma dia masih ada dua milyar dua puluh satu. Akhirnya mereka tak dapat berpikir jernih seperti saat di forum diskusi. Karena perasaan itu, mereka secara tidak sadar salah menerapkan strategi yang telah dibuat kawan-kawannya.
5. Mempertanyakan kembali, apakah sebetulnya hal-hal yang logis dan ilmiah tidak dapat di masukan kedalam hubungan yang bersifat rasa.
Inilah sekelumit cerita perjalanan dua anak manusia yang coba menerapkan ilmu pengetahuan yang bersifat rasional dan penuh perhitungan, kedalam kehidupan pribadi yang penuh rasa dan perasaan.
“mencintai adalah sesuatu yang tidak sulit tapi merasakan cinta adalah hal yang tersulit dalam hidup ini”
SEKIAN…..dan SALAM OLAHRAGA…..!!!!
NB: demikian adalah coretan iseng bersama dua orang teman saat kuliah. Ini saya temukan disalah satu folder di Netbook saya. Entah kenapa ingin saya publikasikan. Barangkali saya ingin beromantisme saja.
Tersebutlah Iis dan Pram. Hidup di lingkungan sebuah kampus ilmu sosial dan politik, dimana waktu efektif kuliah lebih sedikit ketimbang waktu senggang. Dalam 12 jam pagi sampai sore, hanya 4 jam yang di gunakan untuk kuliah (itu pun sudah paling padat). Tak heran mereka cukup cakap dalam bergaul, bergosip, berbengong-bengong, dan tentunya sering pula secara sengaja dan rutin menikmati keindahan dari Nya. Ngecengin perempuan-perempuan kece di kampus. Hanya itu yang mereka bisa, karena untuk memiliki salah satu dari keindahan tersebut merupakan hal yang sulit.
Sebetulnya kedua mahasiswa tersebut adalah mahasiswa yang cukup cerdas dan bersemangat. Bersemangat saat tahun ajaran baru, mengamati dan mengomentari perkembangan perempuan-perempuan dari tahun ke tahun. Cerdas mengimplementasikan ilmu yang mereka dapat di kelas dalam usaha mendapatkan kekasih hati.
Taat metodologi itulah prinsip mereka, karena mereka hidup di dunia kampus, dunia dimana hal-hal yang rasional dan ilmiah yang dapat di terima (seenggaknya begitulah menurut mereka). Berikut adalah metode, alat analisis, dan usaha mereka dalam mendapatkan pacar.
Pengamatan
Dilakukan penuh semangat oleh mereka saat awal semester baru. Dimana banyak perempuan-perempuan muda yang masih segar berkeliaran di kampus (mahasiswi baru). Bangun pagi meski tak ada kuliah, berangkat ke kampus dengan dandanan dan kerapihan yang maksimal untuk sekedar tebar pesona (walaupun mereka gak punya pesona apapun).
Mengamati dengan detail tiap mahasiswi baru, dan memilah-milah mana yang bisa membuat jantung mereka bergetar. Biasanya dengan cepat mereka akan mendapatkan mahasiswi mana yang “gw banget” untuk di bawa ke forum yang lebih serius lagi. Forum diskusi dengan para akademis dan aktifis kampus untuk membuat kajian strategi yang akan mereka lakukan dalam rencana tindak lanjut.
Kajian Strategi (SWOT)
Setelah pengamatan yang detail, Iis dan Pram akan selalu melibatkan teman-temannya dalam melakukan analisis. Menentukan strategi apa yang akan digunakan untuk mendekati sang pujaan hati. Dengan metode SWOT (Strength Weakness Opportunity Threat), metode analisis organisasi yang di terapkan dalam kehidupan pribadi. Mulai dari mencari tahu kekuatan diri sendiri, kelemahan diri sendiri, peluang yang bisa didapatkan, serta ancaman yang akan terjadi.
Dalam melakukan kajian strategi ini biasanya mereka akan dipimpin oleh salah seorang teman yang ahli dalam SWOT. Dan beberapa teman lain untuk menambah masukan-masukan. Tentu saja dalam suasana serius yang ceria di temani minuman hangat khas daerah setempat.
Kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman mereka yang hampir sama tidak menyulitkan dalam melakukan analisis. Seperti kekuatan mereka hanyalah:
• Lucu
• Mudah bergaul
• Perhatian
• Menonjol di lingkungan kegiatan dan organisasi kampus
Kelemahan mereka yang lumayan banyak dan sangat sama seperti:
• Tampang, jauh dari kesan tampan
• Kere, sering kekurangan uang, dan hobi menghutang
• Tidak punya kendaraan pribadi untuk menunjang mobilitas mereka dalam
menjalin hubungan
• Peminum (jika tidak dapat dikatakan pemabuk)
• Tidak menonjol dalam hal akademis
• Jarang mandi
• Jarang rapih,
• Sering lebay sehingga tak dapat memposisikan diri di hadapan pujaan hati
• Kurang pede, dan masih banyak lagi
Peluang mereka pun tampaknya sedikit, seperti:
• Punya banyak teman, mulai dari aktifis, akademisi, musisi, seniman, tukang
rames, tukang becak, pemuda-pemudi sekitar kampus, dan sebagainya
Ancaman mereka:
• Pengaruh zaman yang semakin modern
• Saingan yang lebih, dalam segala hal ketimbang mereka. Lebih banget malah
kekuatannya. Mulai dari fisik, harta, bahkan kepribadian yang sangat
menarik
Proses Menjalankan Strategi yang Sudah dibahas
Karena Iis dan Pram hampir mempunyai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang hampir sama,. Maka tidak sulit menemukan strategi untuk mereka berdua. Seperti, mereka di tuntut lebih kreatif buah dari seringnya mereka berinteraksi oleh individu-individu dari berbagai golongan. Dapat memanfaatkan banyaknya teman, seperti meminjam barang-barang yang menunjang perjuangan mereka untuk mendapatkan pacar. Minta pertolongan teman-teman ketika ‘ancaman’ mereka telah menjadi ancaman yang benar-benar mengancam keselamatan mereka.
Gaya Iis dan Pram pun tak banyak berbeda dalam menjalankan strateginya dalam mencari pacar. Ciri khas Iis adalah sering sekali salah persepsi dan salah melangkah. Iis adalah seorang aktor teater handal yang mampu membuat para perempuan menahan napas dan terkagum-kagum padanya, tapi hanya pada saat Iis sedang berada di atas panggung. Banyak perempuan yang mendekatinya, dengan maksud berteman. Hanya teman, tidak lebih. Sampai akhirnya kundur jatuh hati pada salah satu perempuan tersebut. Kita sebut saja ‘Kamboja’.
Standarlah gaya Iis dalam mendekati sang ‘Kamboja’. Sering smsan, sering bercanda, dan saling memberikan perhatian. Hampir dipastikan kundur tetap menjadi dirinya sendiri. Yang fatal adalah bahwa kundur menyukai seorang perempuan yang sudah mempunyai pacar. Kundur pun mengetahui hal itu dan memaksakan dirinya pula untuk tetap mendekati perempuan tersebut. Hasilnya, hanyalah sakit hati yg sulit terobati…anyiiiing…wasit goblog…!!! (wonge nulis dewek kie)
Lain ladang lain belalang, lain juga apa yang dialami Pram. Ketimbang Iis, Pram lebih perhitungan dalam menjalankan strategi-strategi yang telah dibuat. Tipikal Pram adalah menunggu moment. Cenderung pasif, gagap, takut, dan hanya memikirkan saja, tanpa di lanjuti tindakan konkret.
Sebut saja ‘Melati’, perempuan yang di dekati Pram adalah seorang perempuan yang lebih senang berkutat dengan kuliah., ujian, dan tugas. Sosok perempuan yang tampaknya tomboy dan berwawasan luas. Sering salah tingkah adalah hal yang pasti terjadi ketika Pram berjumpa dengan ‘Melati’, yang akhirnya malah membuat sang ‘Melati’ muak, dan ifeel. Sangat mengganggu, ketika Pram sms sang ‘Melati’. Karena saat Pram melancarkan serangan sms, rupanya sang ‘Melati’ sedang belajar untuk menghadapi cobaan hidup, yaitu ujian, atau saat Pram sms saat dia sedang mengerjakan tugas-tugasnya. Alhasil, tertutuplah pintu hati sang ‘Melati’ untuk Pram. Rasa muak tampaknya telah menguasai hati sang ‘melati’, hingga Pram pun sakit hati. Lagi… dan lagi….
Evaluasi
Proses yang penuh canda, kebahagia, perjuangan, dan di akhiri dengan derai air mata dan hati tersayat-sayat telah di lalui Iis dan Pram. Kegagalan adalah hasil akhir yang diperoleh mahasiswa cukup umur ini. kembalilah mereka berdua pada kenyataan bahwa akhirnya mereka tetap sendiri. Evaluasinya:
1. Iis dan Pram kurang percaya diri. Mereka berdua cenderung selalu melupakan bahwa sebetulnya mereka memiliki kemampuan yang bisa di tonjolkan untuk memikat hati para perempuan.
2. Tidak dapat menguasai emosi diri sendiri. Alhasil mereka malah di mainkan emosinya oleh para perempuan yang mereka dekati. Seperti uringa-uringan kalau smsnya tak di balas, dan akhirnya mereka memaksa untuk sms, dan tenyata waktunya tidak tepat.
3. Bahasa verbal dan bahasa tubuh mereka sering kelewatan, akhirnya membuat perempuan yang di dekati merasa muak alias ilfeel.
4. Terlalu takut kehilangan, padahal perempuan tak cuma dia masih ada dua milyar dua puluh satu. Akhirnya mereka tak dapat berpikir jernih seperti saat di forum diskusi. Karena perasaan itu, mereka secara tidak sadar salah menerapkan strategi yang telah dibuat kawan-kawannya.
5. Mempertanyakan kembali, apakah sebetulnya hal-hal yang logis dan ilmiah tidak dapat di masukan kedalam hubungan yang bersifat rasa.
Inilah sekelumit cerita perjalanan dua anak manusia yang coba menerapkan ilmu pengetahuan yang bersifat rasional dan penuh perhitungan, kedalam kehidupan pribadi yang penuh rasa dan perasaan.
“mencintai adalah sesuatu yang tidak sulit tapi merasakan cinta adalah hal yang tersulit dalam hidup ini”
SEKIAN…..dan SALAM OLAHRAGA…..!!!!
NB: demikian adalah coretan iseng bersama dua orang teman saat kuliah. Ini saya temukan disalah satu folder di Netbook saya. Entah kenapa ingin saya publikasikan. Barangkali saya ingin beromantisme saja.
Tuesday, October 18, 2011
Diperam Saja
Siang tadi cukup panas namum kita dapat mengurai dalam tawa. Berjalan dengan sabar, bicara tanpa nanar. Tidakkah itu menyenangkan? Lalu semua berubah, senjakala tiba, bagai amok kapak tawa hilang dalam diam. Suara-suara teredam tanpa sedikit umpatan. Hati, barang mahal yang sulit dikendalikan mesti dicoba, dan wajah menunjukkan aku tak rela. Ah, dalam upaya dan usaha, aku kalah malam ini. Aku kalah oleh ego dan keinginan untuk sedikit dihargai. Bukan haram, tapi tunda, paling tidak sampai aku tidak mendengar percakapan malam tanpa bintang. Tidak salah, hanya aku yang belum mampu mengalah dalam marah.
Noda hitam dalam rentetan sejarah menjadi tak tabu kala tawa menjelaskan segalanya. Lalu urutan waktu akan membuat aku terbelakang dalam barisan warna. Bukan kata 'oh' atau 'ya'. Bukan pula kondisi atau peristiwa dari awal dan akhir. Tapi rentetan kalimat penjelasan sebelum tanya.
Noda hitam dalam rentetan sejarah menjadi tak tabu kala tawa menjelaskan segalanya. Lalu urutan waktu akan membuat aku terbelakang dalam barisan warna. Bukan kata 'oh' atau 'ya'. Bukan pula kondisi atau peristiwa dari awal dan akhir. Tapi rentetan kalimat penjelasan sebelum tanya.
Cerita perjalanan Pulang

Pukul 18:30, sementara bus kota memacu adrenalin dalam hujan. Bapak tua mengobral kata menjajakkan tasbih dan juga juz'ama lalu tiba-tiba ibu tua menggendong anaknya ambil kendali. Menyalakan soundsystem sederhana lalu dangdut pun meraja. Berdendang ia tanpa tahu nada, ditemani sikecil pertama membagikan amplop kosong agar terisi, dan si ragil menyenyakan diri di gendongan sang ibu penyanyi dangdut. Pertarungan pasar yang luar biasa. Bergantian, penumpang diberondong tawaran barang, dari snack buatan pabrik sampai tahu sumedang hangat. Pertarungan luar biasa, didalam hujan semua menggumam ketika si penumpang acuh tak acuh. Apa mau dikata, sebagian pekerja kantoran melepaskan lelah dibahu senja. Ah, ini hidup. Kadang pasang kadang surut.
Namaku Di
Namaku Di, bahkan aku lupa apa lengkapnya. Usiaku 24 tahun. Pada usia 10 tahun, aku mendapati bahwa aku ternyata lelaki tulen seperti kebanyakan lelaki umumnya meskipun mimpi basah pertamaku baru aku alami pada usia 14 tahun. Namaku Di, saat usia 10 tahun aku hobby bermain layang-layang dan takut menyalakan petasan, bahkan kali pertama aku berani menyalakan korek api gas adalah saat usiaku 22 tahun itupun karena kondisi terjepit.
Aku ingat layang-layang pertama yang aku terbangkan putus saat adu jotos, aku kejar, berlari seperti babi hutan yang kelaparan, menyebrang jalan tanpa awas aku berhasil hindari mobil tapi justru menabrak gadis manis. Ku pikir ia akan jadi jodohku, ternyata tidak.
Namaku Di, bahkan aku lupa lengkapnya apa. Aku sering bermain boneka dan patung super hero kacangan. Teman SD ku mengatakan aku banci tapi di SMP aku disegani. Aku ingat, cinta monyet pertamaku, aku sapa ia buntut kuda. Tak pernah berawal tak juga berakhir, aku putuskan kencani siswa kelas 2 sementara aku kelas 1, bukan aku yang mulai, tapi tak apa dan kasian tak berlangsung lama. Puberku begitu cepat, usia 13 sudah diajak menonton blue film dirumah teman. Pembantunya kita suruh pergi, agar kami bisa asik ereksi.
Namaku Di, kisah hidupku tak cukup manis tak juga terlampau pahit, aku pernah memaki ayahku, kami berseteru, nyaris adu jotos. Ibu menatap sendu, adik diam wajahnya ungu. Aku Di, memutuskan cinta Ibu dan adikku tapi tidak ayahku.
Namaku Di, sebagai mahasiswa aku digilai, mereka bilang aku homo, tapi tidak juga karena aku sanggup ereksi melihat pantat dan dada wanita. Aku ingat, namaku Di tercatat sebagai penjaga neraka dunia. Akrab dengan dunia malam tapi tak gemerlap juga tanpa vodka atau minuman mahal lainnya, aku cukup menenggak anggur merah atau ciu ala kadarnya. Hangat diantara angin malam yang menyiksa. Masa mahasiswa masa bahagia, karena karir asmaraku terang benderang, gonta ganti pacar hobbyku. Bersama teman cari mangsa bukan untuk dilahap atau dikencani. Akan tetapi dipelajari dan diracuni, bukan dengan dogma dogma, tapi cukup sandiwara. Karena aku aktor, tapi gagal aku beralih jadi sastrawan. Miskin karya aku tak mau jadi sastrawan, tugasnya berat. Lebih baik jadi karyawan, tinggal kerja dan tunggu tanggal gajian.
Namaku Di, berkali-kali aku buat pilihan dungu dalam hidup. Namaku Di, bahkan aku lupa apa lengkapnya.
Aku ingat layang-layang pertama yang aku terbangkan putus saat adu jotos, aku kejar, berlari seperti babi hutan yang kelaparan, menyebrang jalan tanpa awas aku berhasil hindari mobil tapi justru menabrak gadis manis. Ku pikir ia akan jadi jodohku, ternyata tidak.
Namaku Di, bahkan aku lupa lengkapnya apa. Aku sering bermain boneka dan patung super hero kacangan. Teman SD ku mengatakan aku banci tapi di SMP aku disegani. Aku ingat, cinta monyet pertamaku, aku sapa ia buntut kuda. Tak pernah berawal tak juga berakhir, aku putuskan kencani siswa kelas 2 sementara aku kelas 1, bukan aku yang mulai, tapi tak apa dan kasian tak berlangsung lama. Puberku begitu cepat, usia 13 sudah diajak menonton blue film dirumah teman. Pembantunya kita suruh pergi, agar kami bisa asik ereksi.
Namaku Di, kisah hidupku tak cukup manis tak juga terlampau pahit, aku pernah memaki ayahku, kami berseteru, nyaris adu jotos. Ibu menatap sendu, adik diam wajahnya ungu. Aku Di, memutuskan cinta Ibu dan adikku tapi tidak ayahku.
Namaku Di, sebagai mahasiswa aku digilai, mereka bilang aku homo, tapi tidak juga karena aku sanggup ereksi melihat pantat dan dada wanita. Aku ingat, namaku Di tercatat sebagai penjaga neraka dunia. Akrab dengan dunia malam tapi tak gemerlap juga tanpa vodka atau minuman mahal lainnya, aku cukup menenggak anggur merah atau ciu ala kadarnya. Hangat diantara angin malam yang menyiksa. Masa mahasiswa masa bahagia, karena karir asmaraku terang benderang, gonta ganti pacar hobbyku. Bersama teman cari mangsa bukan untuk dilahap atau dikencani. Akan tetapi dipelajari dan diracuni, bukan dengan dogma dogma, tapi cukup sandiwara. Karena aku aktor, tapi gagal aku beralih jadi sastrawan. Miskin karya aku tak mau jadi sastrawan, tugasnya berat. Lebih baik jadi karyawan, tinggal kerja dan tunggu tanggal gajian.
Namaku Di, berkali-kali aku buat pilihan dungu dalam hidup. Namaku Di, bahkan aku lupa apa lengkapnya.
Mula dan Akhir: sebuah refleksi anomali

Bagaimana bisa akhir tanpa mula? demikian bisik salah satu tokoh dalam kehidupan. Kemudian tokoh lain menimpali, awal dan akhir adalah keniscayaan. Keduanya berhimpitan seperti dua sisi mata uang. Wajah keduanya pun berbeda dan selelu berubah. Awal yang terlihat tidak selalu seperti awal yang sebenarnya. Demikian juga akhir, hal yang berjalan dengan hampa dan kosong itu sama saja dengan akhir, hanya saja tinggal menunggu tanda baca titik sebagai formalitas hubungan sebab akibat.
Lalu apakah akhir akan menjadi mula kembali? Tokoh pertama bertanya, dan bak gayung bersambut tokoh lainnya ikut menimpali. Segala ada akan menuju ketiadaan, dan ada berasal dari ketiadaan. Semua adalah siklus dari misteri Tuhan yang kita tidak tau pasti. Sesuatu yang sudah berakhir secara resmi atau belum secara resmi, bukan tak mungin akan kembali ke awal, tapi awal yang bagaimana tak seorangpun tahu. Bisa sama dengan awal sebelumnya bisa juga tidak, itu tergantung dari itikad dan niatan dari sesuatu. Ini bagian dari reinkarnasi kalau kau mau tahu. Saat ini kau jadi manusia esok kau bisa jadi mutan dengan taring besar, kuku tajam, dan kulit kasar. Dulu kau disuka kemudian kau dihina. Ah, siklus awal dan akhir siapa yang tahu. Meski berpikir untuk seribu tahun lagi tapi ternyata malam tadi dewa kematian datang dan menghisap harapan dan impian, lantas, apa mau dikata? Jalani saja dengan isi atau bahkan dengan kosong. Akhir akan datang dengan sendirinya. Meski dengan koma atau titik, semua selesai, habis perkara
Subscribe to:
Posts (Atom)
Mekar Bunga di Penghujung Musim Panas
Adakah takdir selalu konstant? Ah, tidak juga katanya? Apapun bisa terjadi, semua mungkin terjadi. Tergantung pada hubungan sebab dan akibat...
-
Adakah takdir selalu konstant? Ah, tidak juga katanya? Apapun bisa terjadi, semua mungkin terjadi. Tergantung pada hubungan sebab dan akibat...
-
Langkah-langkah tergerak dalam irama nyanyian camar di tepian senja. Bukan hati ingin jadi juara namun logika pasti selalu bertanya Bukan ...
