Hari akan terus berjalan sebagaimana mestinya, malam akan berganti pagi dengan ala kadarnya. Aku pun akan berjalan, terus terkadang berlari sambil menatap setiap langkah dibawah langit Jakarta. Sesekali, mendengarkan Nicolas Saputra melafalkan guratan kata dibawah ini....
Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.
kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi.
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,
lebih dekat.
lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita
apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu
manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.
Selasa, 1 April 1969
-dari buku harian Soe Hok Gie-
Friday, December 11, 2015
Clear Desember
Aku mendapati senja melupakan pagi. Entah, barangkali malam menjadi lebih indah kali ini. Atau barangkali aku terlalu berprasangka. Mungkin aku yang terlalu asik bergumul dengan pikiranku, dengan pertanyaan-pertanyaan, dengan amarah, dengan keingintahuan.
Senja tak lagi jingga, carut marut hari melarungkan segala asa. Kini tinggal sisa dari keikhlasan yang harus diikhlasakan. Biar berdarah-darah, ambil peduli! Kudapati senja tak lagi merindu pagi, dia merekatkan pada malam demi melupakan pagi.
Senja tak lagi jingga, carut marut hari melarungkan segala asa. Kini tinggal sisa dari keikhlasan yang harus diikhlasakan. Biar berdarah-darah, ambil peduli! Kudapati senja tak lagi merindu pagi, dia merekatkan pada malam demi melupakan pagi.
Thursday, December 10, 2015
Aksioma Desember 2015
21 hari lagi menjelang pergantian tahun. Barangkali kebanyakan orang sedang menyiapkan berbagai rencana untuk menyambut tahun yang baru. Demikian juga saya, saya sedang menyiapkan penyambutan tahun yang baru, bukan! bukan menyambut tahunnya, namun menyiapkan mental sekuat-kuatnya menyambut aksioma yang akan terjadi pada akhir tahun ini. Aksioma, kebenaran yang tidak terbantahkan kebenarannya, kenyataan yang sangat sulit dihindarkan adanya, kenyataan akan pergi yang tak berujung pada kembali.
Ah, agaknya saya terlalu naif memandang bulan ini, ada orang yang merasakan Desember is the longest month ever. Namun saya sebaliknya, saya ingin Desember ini tidak pernah habis, tidak pernah berujung, tidak pernah berakhir. Meskipun pandang tak pernah bertemu pandang, meskipun kata tak pernah berbalas kata. Ini aksioma, baiklah ini aksioma. saya garis bawahi kata ini AKSIOMA!
Satu hal positif yang barangkali akan terjadi pada pergantian tahun adalah, sebagian orang tidak lagi merasakan hujan dibulan Desember, lagu ERK, selalu soal lagu ERK. hmm.. lirik bagian ini, "... Sampai nanti ketika hujan tak lagi meneteskan duka meretas luka, sampai hujan memulihkan luka...." sial
Ah, agaknya saya terlalu naif memandang bulan ini, ada orang yang merasakan Desember is the longest month ever. Namun saya sebaliknya, saya ingin Desember ini tidak pernah habis, tidak pernah berujung, tidak pernah berakhir. Meskipun pandang tak pernah bertemu pandang, meskipun kata tak pernah berbalas kata. Ini aksioma, baiklah ini aksioma. saya garis bawahi kata ini AKSIOMA!
Satu hal positif yang barangkali akan terjadi pada pergantian tahun adalah, sebagian orang tidak lagi merasakan hujan dibulan Desember, lagu ERK, selalu soal lagu ERK. hmm.. lirik bagian ini, "... Sampai nanti ketika hujan tak lagi meneteskan duka meretas luka, sampai hujan memulihkan luka...." sial
Tuesday, December 8, 2015
December 2015
Hujan sudah mulai turun akhir-akhir ini. Seperti ERK dalam lagunya "aku selalu suka sehabis hujan dibulan Desember", yap. Hujan adalah cara langit meluapkan kesedihan. Hujan adalah ekpresi paling jujur kala langit terasa hambar setelah panas seharian. Namun demikian, kembali pada lagu milik ERK, apakah pelangi akan setia menunggu hujan reda? entah, entah, apakah jawaban itu akan muncul dengan segera.
Hari-hari ini terasa menjenuhkan, aktivitas sehari-hari membawa diri ini ingin jauh dari rutinitas. Ingin menghilang dari keramaian. Menikmati udara segar pedesaan tampaknya akan menjadi obat penawar yang manis. Ditemani secangkir teh hangat dan kemudian menunggu senja...
ahhh senja "I'm afraid I might run to you and hug you tight"
Hari-hari ini terasa menjenuhkan, aktivitas sehari-hari membawa diri ini ingin jauh dari rutinitas. Ingin menghilang dari keramaian. Menikmati udara segar pedesaan tampaknya akan menjadi obat penawar yang manis. Ditemani secangkir teh hangat dan kemudian menunggu senja...
ahhh senja "I'm afraid I might run to you and hug you tight"
Monday, November 30, 2015
Sebelum Tertidur Panjang
Kuceritakan satu dongeng yang akan memupus lelahmu hari ini, yang akan
mengantarmu tidur, jadi marilah sini, rebahkan kepalamu di pangkuanku
dan akan kubelai rambutmu lalu aku akan bercerita mengenai seorang
pangeran dan seorang gadis...
Di suatu tempat yang tidak terikat waktu dan jarak, tersebutlah seorang pangeran yang dulunya berasal dari rakyat jelata. dia seorang pangeran yang baik hati, dan kebaikan hati dan kelembutan jiwanya terpancar kuat saat ia tersenyum.
pangeran itu membangun benteng yang sangat tinggi untuk melindungi kerajaannya, lalu ia memasukkan keluarga, sahabat, dan rakyatnya ke dalam benteng itu, tapi tak lama kemudian ia mengeluarkan beberapa sahabatnya dulu yang sekarang ternyata berkhianat.
Di istananya itu ia memiliki sebuah menara yang tinggi dengan lonceng di atasnya, di sanalah ia berdiam diri di kala gundah untuk menenangkan pikiran sebelum kembali mengurusi dan menghadapi masalah kerajaannya.
Namun, akhirakhir ini saat ia berada di puncak menara itu, ia terusik mendengar suara dentingan kecapi yang di petik oleh seorang gadis di luar istananya. suara kecapi itu mengusik kesendiriannya, tapi ia pun merindukan dentingan kecapi itu kala suara itu tak terdengar
Lalu apakah pangeran itu jatuh hati pada sang gadis?
apakah pangeran itu akan memasukkan gadis itu dalam istananya?
atau justru ia akan membuka lebar gerbang istananya dan berlari menemui gadis itu?
Di suatu tempat yang tidak terikat waktu dan jarak, tersebutlah seorang pangeran yang dulunya berasal dari rakyat jelata. dia seorang pangeran yang baik hati, dan kebaikan hati dan kelembutan jiwanya terpancar kuat saat ia tersenyum.
pangeran itu membangun benteng yang sangat tinggi untuk melindungi kerajaannya, lalu ia memasukkan keluarga, sahabat, dan rakyatnya ke dalam benteng itu, tapi tak lama kemudian ia mengeluarkan beberapa sahabatnya dulu yang sekarang ternyata berkhianat.
Di istananya itu ia memiliki sebuah menara yang tinggi dengan lonceng di atasnya, di sanalah ia berdiam diri di kala gundah untuk menenangkan pikiran sebelum kembali mengurusi dan menghadapi masalah kerajaannya.
Namun, akhirakhir ini saat ia berada di puncak menara itu, ia terusik mendengar suara dentingan kecapi yang di petik oleh seorang gadis di luar istananya. suara kecapi itu mengusik kesendiriannya, tapi ia pun merindukan dentingan kecapi itu kala suara itu tak terdengar
Lalu apakah pangeran itu jatuh hati pada sang gadis?
apakah pangeran itu akan memasukkan gadis itu dalam istananya?
atau justru ia akan membuka lebar gerbang istananya dan berlari menemui gadis itu?
Thursday, October 8, 2015
habis perkara
Kau berpikir soal perasaan, Aku berpikir bagaimana untuk menyambung hidup. Habis perkara.
Thursday, October 1, 2015
gerak, langkah, goyah
Langkah-langkah tergerak dalam irama nyanyian camar di tepian senja.
Bukan hati ingin jadi juara namun logika pasti selalu bertanya
Bukan soal keberadaan namun hakikat dari sebuah materi bukan soal das sein atau das solen, tapi soal apa dan bagaimana
Langkah-langkah bergetar dimalam kala bulan tak bercahaya
Sunyi senyap dalam jalan lurus tanpa asa
Bukan ingin menghamba pada logika tapi satu ditambah satu sementara jadi dua
Langkah-langkah goyah dalam kata berawal dari ada jadi tiada berawal dari tiada menjadi ada
Bukan proses namanya jika tidak jadi alibi semua tidak samar atau gamang hanya buta dalam kegelapan
Ah, bahkan algojonya berkata aku mencintaimu dalam gerak getar dan goyah
Bukan hati ingin jadi juara namun logika pasti selalu bertanya
Bukan soal keberadaan namun hakikat dari sebuah materi bukan soal das sein atau das solen, tapi soal apa dan bagaimana
Langkah-langkah bergetar dimalam kala bulan tak bercahaya
Sunyi senyap dalam jalan lurus tanpa asa
Bukan ingin menghamba pada logika tapi satu ditambah satu sementara jadi dua
Langkah-langkah goyah dalam kata berawal dari ada jadi tiada berawal dari tiada menjadi ada
Bukan proses namanya jika tidak jadi alibi semua tidak samar atau gamang hanya buta dalam kegelapan
Ah, bahkan algojonya berkata aku mencintaimu dalam gerak getar dan goyah
larungkan caci
Bukankah sudah kau layangkan tamparan itu kepadaku padahal waktu yang mengelilingiku terus berayun pada bandul waktu, menghentak ketakutan di caci hari.
Karena aku tidak mampu menghentikan masa yang terus bergetar.
Sedangkan di setiap tangis meleleh menyengat apa saja yang hanya dari muka, aku tidak peduli dan tak bisa memaknai air mata.
Aku membendung dan merobek cacianmu yang rapuh dan membusa di ujung bibir aku mengeja dan merontokkan kata dan kalimat yang kau keluarkan, tak hanya itu, aku menghadirkan kembali apa yang ingin kau beri
...kesejahteraan....
...mimpi...
...dan segala janji...
Semua itu kusiram dengan darah dan amarah, ditambah koyakan tubuh yang selalu dituntut membisu dan tidak berhak atas apapun tentangmu,, lalu kubakar, kujadikan api agar cacianmu dibawa awan dan dibaca malaikat.
Biar waktu tahu kau sering ditipu, biar waktu tahu laporannya selama ini padanya omong kosong
Kini mataku nanar disaput jelaga; pedih namun setidaknya waktu sudah kukembalikan penjaga waktu biar masa cepat lalu bersama sakit yang hilang karena maut
Tidak..
Aku tidak menangis.
Karena aku tidak mampu menghentikan masa yang terus bergetar.
Sedangkan di setiap tangis meleleh menyengat apa saja yang hanya dari muka, aku tidak peduli dan tak bisa memaknai air mata.
Aku membendung dan merobek cacianmu yang rapuh dan membusa di ujung bibir aku mengeja dan merontokkan kata dan kalimat yang kau keluarkan, tak hanya itu, aku menghadirkan kembali apa yang ingin kau beri
...kesejahteraan....
...mimpi...
...dan segala janji...
Semua itu kusiram dengan darah dan amarah, ditambah koyakan tubuh yang selalu dituntut membisu dan tidak berhak atas apapun tentangmu,, lalu kubakar, kujadikan api agar cacianmu dibawa awan dan dibaca malaikat.
Biar waktu tahu kau sering ditipu, biar waktu tahu laporannya selama ini padanya omong kosong
Kini mataku nanar disaput jelaga; pedih namun setidaknya waktu sudah kukembalikan penjaga waktu biar masa cepat lalu bersama sakit yang hilang karena maut
Tidak..
Aku tidak menangis.
Wednesday, August 5, 2015
August 5
Saya melihat kegelisahan di hari-hari belakangan. Entah, ada sesuatu dalam diri yang ingin menyeruak keluar dan menjadi penguasa atas diri saya. Barangkali saya sedang jumud dengan situasi saat ini sehingga saya membutuhkan suatu hal untuk membangkitkan semangat saya lagi.
Seperti kemarin, saya harus mengajar disebuah kelas untuk karyawan baru, ada enam karyawan dalam kelas saya. Saya kurang cukup semangat kali ini, meski tidak saya tunjukkan. Setiap kali saya ingin waktu berlalu dengan cepat. Saya ingin waktu istirahat dan pulang bisa tiba dengan cepat. Entah
Tuesday, August 4, 2015
Tentang Kehadiran Diujung Waktu
Terik siang tadi adalah masa dimana aku ingin tertawa dalam deretan langkah kecil yang tercipta. Tertawa karena dia muncul diantara langkah kita, yang melaju kekiri dan kekanan, sesekali memicingkan mata kebelakang. Entah apa yang kita cari, entah apa yang kita lihat. Mungkin saja itu bayangan, atau pengintai yang penuh tanya atas situasi siang tadi.
Aku dan kamu, memojokkan diri dalam ruangan sesak, kau goda aku, aku goda kau balik. kau bercerita tentang kisah dan roman picisan. kau bercerita soal usaha dan daya upaya yang terbantahkan oleh rasa. Kau bercerita tentang peluang dan bercerita tentang perjalanan pulang. Sementara aku adalah pendengar, sesekali aku berpendapat dalam himpitan pertanyaan dalam hati. Ah, barangkali suhu ruangan itu membuat otakku tidak bekerja normal, logika seakan terbunuh rasa. Aku ambil kendali atas diriku yang melesat terlalu jauh pada pertanyaan-pertanyaan menjebak. Bukan, itu hanya sebatas retorika namun bukan tanpa makna.
Sempat kau tepuk pundakku, tak kuasa aku berkata. Tersenyum satu-satunya yang bisa lakukan, lalu pengalihan. Sesekali ku pandang wajahmu yang ceria penuh tawa. Lalu kubuang wajahku jika aku rasa kau mulai curiga, sebelum aku malu. Maaf jika aku menjadi pencuri, pencuri detik-detik untuk memandang wajahmu.
Ada hal yang sering kali terlewatkan dalam hidup. Barangkali ini seperti kepingan puzzle yang hilang sementara waktu sudah hampir sampai pada ujungnya.
Friday, January 31, 2014
Tentang Cerpen "Sepasang Kaus Kaki Hitam"
Sudah beberapa hari setelah saya membaca sebuah kisah dari "pudjangga lama" yang berjudul "Sepasang Kaos Kaki Hitam" entah kenapa saya selalu terngiang-ngiang dengan kisah itu. Barangkali memang kisahnya yang terlampau pilu, meski tanpa happy ending, namun agaknya akhir cerita itu menjadi ending yang sempurna bagi masing-masing tokoh,
Mevally, adalah sosok wanita yang membuat saya penasaran. Dengan pribadi yang misterius yang dibentuk dari masa lalu yang cukup kelam, namun semuanya membuat perempuan ini makin matang, penuh prinsip dan filosofi.
Ari, sosok lelaki yang cukup bijak dengan segala bentuk kekonyolannya namun memberi saya banyak inspirasi dengan celetukan-celetukannya.
Kedua tokoh itu selalu berlari-lari dikepala saya sepanjang malam tadi, sampai saya tidak bisa tidur sampai dengan fajar datang. Dari sekian banyak Novel, Cerpen dan kisah yang pernah saya baca, kisah dari pudjangga lama ini adalah kisah yang benar-benar merangsak ke otak saya. Entah bagaimana si empunya kisah menuliskan kisahnya dengan bahasa sederhana dan membuat seolah saya ada disana, menatap mereka berdua disetiap peristiwa, disetiap suasana, disetiap bentuk ruang yang digambarkan.
Kisah ini memang tentang cinta, cinta platonic. Yap, Cinta Platonic atau Cinta tak harus memiliki. Cinta Mevally dan Ari selalu berada pada batas garis abu-abu prinsip yang mereka anut. Yah, prinsip memang sering kali membuat kita naïf dan melacurkan diri pada kegamangan. Satire memang, tapi itulah kehidupan. Cinta tidak selalu bisa memenangkan segalanya, tetapi Cinta bisa membuat kita belajar, belajar untuk makin bijak dan dewasa dalam memandang hidup. Cinta mengajari kita bagaimana caranya bangkit setelah sedetik lalu kita jatuh. Cinta mengajari kita bagaimana caranya berkorban.
Ahhh,,, saya jatuh cinta pada tokoh Mevally, jatuh cinta pada kepribadiannya, prinsipnya, dari bagaimana dia memandang hidup, dan jatuh cinta dari caranya memilih jalannya untuk melewati tiap kotak demi kotak kehidupan.
Terima kasih Pudjangga Lama atas sepenggal kisah yang kau bagi. Sungguh saya terenyuh.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Mekar Bunga di Penghujung Musim Panas
Adakah takdir selalu konstant? Ah, tidak juga katanya? Apapun bisa terjadi, semua mungkin terjadi. Tergantung pada hubungan sebab dan akibat...
-
Adakah takdir selalu konstant? Ah, tidak juga katanya? Apapun bisa terjadi, semua mungkin terjadi. Tergantung pada hubungan sebab dan akibat...
-
Langkah-langkah tergerak dalam irama nyanyian camar di tepian senja. Bukan hati ingin jadi juara namun logika pasti selalu bertanya Bukan ...
