Aku mendapati senja melupakan pagi. Entah, barangkali malam menjadi lebih indah kali ini. Atau barangkali aku terlalu berprasangka. Mungkin aku yang terlalu asik bergumul dengan pikiranku, dengan pertanyaan-pertanyaan, dengan amarah, dengan keingintahuan.
Senja tak lagi jingga, carut marut hari melarungkan segala asa. Kini tinggal sisa dari keikhlasan yang harus diikhlasakan. Biar berdarah-darah, ambil peduli! Kudapati senja tak lagi merindu pagi, dia merekatkan pada malam demi melupakan pagi.
Friday, December 11, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Mekar Bunga di Penghujung Musim Panas
Adakah takdir selalu konstant? Ah, tidak juga katanya? Apapun bisa terjadi, semua mungkin terjadi. Tergantung pada hubungan sebab dan akibat...
-
Adakah takdir selalu konstant? Ah, tidak juga katanya? Apapun bisa terjadi, semua mungkin terjadi. Tergantung pada hubungan sebab dan akibat...
-
Langkah-langkah tergerak dalam irama nyanyian camar di tepian senja. Bukan hati ingin jadi juara namun logika pasti selalu bertanya Bukan ...
No comments:
Post a Comment