Tuesday, July 20, 2010

Soal “menjinakkan” dengan SWOT

SWOT, bagi mahasiswa fakultas sosial ataupun mereka yang pernah bergelut dalam dunia organisasi atau administrasi sedikit banyak pasti akrab dengan istilah ini. SWOT adalah salah satu metode analisis planning strategic yang biasa digunakan dalam organisasi atau semacamnya yang fungsinya mengevaluasi, membaca potensi, dan penciptaan strategi untuk bergerak kedepan dengan melihat dalam aspek Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats. Metode ini mulai disahkan dan diakui sebagai salah satu metode analisis organisasi pada tahun 1960an di Stanfors University oleh Albert Humphrey. (sumber:Wikipedia.com)

Membaca organisasi dengan SWOT kita akan melibatkan faktor ekternal dan internal dari organisasi itu sendiri. Faktor internal akan diwakili oleh Strength dan weakness. Strength merupakan kekuatan yang dimiliki secara internal, sifatnya dapat berupa sumber daya yang bersifat soft ataupun kelengkapan yang sifat hard yang berpotensi menjadi senjata dalam menentukan strategic planning. Weakness, juga dilihat dari sisi internal organisasi. Merupakan antitesa dari kekuatan yang seharusnya dimiliki oleh organisasi dalam menentukan strategic planning. Weakness biasanya berupa ketiadaan sumber daya yang bersifat soft dan juga hard. Faktor eksternal dalam SWOT diwkili oleh Opportunity dan juga Threat. Opportunity merupakan peluang atau kesempatan yang bergerak di luar organiasi yang ketika dapat dimanfaatkan secara maksimal akan sangat menentukan goal dari organisasi tersebut. Sedangkan threat adalah kebalikan dari opportunity. Threat sebaiknya dibaca secara detail dan mendalam bahkan sampai hal yang bersifat remeh temeh. Threat jika tidak diantisipasi sangat berpotensi menghambat proses penciptaan goal dari organisasi. Threat terkadang datang secara tak diduga, karena kondisinya memang ada proses yang bergerak dinamis di sisi luar organisasi, ini pun berlaku untuk opportunity. (dari banyak sumber)

Lazimnya, SWOT memang digunakan untuk membaca sebuah organisasi dan menciptakan rancangan strategic planning untuk mencapai target yang ditetapkan organisasi tersebut. Lalu bagaimana jika SWOT ini diterapkan untuk case yang berbeda. Misalnya dalam hal asmara. Saat saya masih kuliah, saya dan beberapa teman memiliki sebuah kebiasaan atau mungkin juga dapat disebut sebagai sebuah ritual tahunan. Ritual yang hampir selalu dilakukan ketika masuk ajaran baru. Lebih tepatnya beberapa minggu pasca OSPEK mahasiswa diadakan. Ritual ini juga terkadang dilakukan secara isidental jika memang ada hal yang perlu dipecahkan. Ritual ini kami sebut dengan istilah “PEMBACAAN”. Pembacaan, yang dari kata “baca” disni berarti mencoba untuk memahami sesuatu hal atau peristiwa yang sedang atau sudah berlangsung.
Mungkin istilah “pembacaan” akan menjadi begitu berat dipikirkan jika kita mengkait-kaitkan dengan hal yang berbau pergerakan mahasiswa dan kawanannya. Pembacaan yang kami lakukan, tidak lebih dari membaca kontelasi politik asmara yang muncul akibat datangnya mahasiswi-mahasiswi baru yang di istilahkan “fresh from the oven” atau biasa sebut “kupat” oleh beberapa teman mahasiswa di kampus saya waktu itu (mungkin sampai saat ini istilah “kupat” masih (sangat) popular) ataupun pembacaan mengenai female new comers dalam hidup kami. Pembacaan konstelasi asmara bagi kami menjadi (agak) penting untuk di lakukan untuk menjaga dinamisasi hubungan antar lelaki agar tidak saling rebutan lahan dan wilayah jajahan. Memang awalnya hanya sebagai “lucu-lucuan” dikala senggang dan melepas penat dari hingar bingar masalah tugas, kuliah dan tetek bengeknya. Tapi berawal dari ke isengan kami dalam melakukan pembacaan, kami akhirnya menemukan ide (yang saat itu kami anggap brilliant) dalam menjinakan lawan jenis. SWOT, adalah metode yang kami coba kami adopsi secara sederhana dan agak serampangan untuk mencoba mencapai tujuan kami saat itu. Dimana tujuannya tidak lebih jauh dari mendapatkan pasangan. Ini karena sebagian dari kami saat itu masih berstatus “single”.

Dalam melakukan analisis SWOT (asmara), hal yang pertama dilakukan adalah menentukan target. Taget disini apa lagi kalau bukan perempuan yang hendak kami jinakkan (penggunakan kata ‘jinakkan’ sepertinya lebih enak dibaca ketimbang ‘taklukan’). Setelah target ditemukan, masuklah kita dalam proses gathering data. Terutama data-data valid soal di target. Data-data ini banyak variannya, bahkan yang tidak oleh orang lain pun dapat menjadi begitu penting bagi kami. Merujuk metode SWOT Data-data soal target nantinya akan kami pilah kedalam dua hal, yaitu data yang bersifat opportunity dan data yang bersifat threat. Dalam pengumpulan data si target tentunya kita butuh informan yang sangat dipercaya dalam validitas infomasi yang diperlukan. Ambil saja teman dekat target, atatupun teman yang kurang dekat untuk dapat lebih variaan data.
Setelah data target dirasa cukup, mulailah proses pembacaan dimulai. Pertama dengan membaca strength yang dimiliki si pemburu target. Saya beri contoh soal pembacaan yang pernah kami lakukan pada seorang teman, sebut saja namanya Masmon. Ini data strengths yang dimiliki:

-Lucu
-Mudah bergaul
-Perhatian
-Aktif dalam kegiatan kampus
-Bisa menahan emosi
-Jago main futsal dan bulu tangkis
-Penyabar

Kedua, pembacaan soal weaknesses yang dimiliki si pemburu, masih contoh kasus Masmon. Berikut datanya:

-Kualitas wajah biasa saja. Tinggi tapi kerempeng.
-Kere, sering kekurangan uang, dan hobi menghutang
-Tidak punya kendaraan pribadi untuk menunjang mobilitas mereka dalam menjalin hubungan
-Peminum (jika tidak dapat dikatakan pemabuk)
-Tidak menonjol dalam hal akademis
-Jarang mandi
-Jarang rapih,
-Sering lebay sehingga tak dapat memposisikan diri di hadapan pujaan hati
-Kurang pede, dan masih banyak lagi

Setelah pembacaan faktor internal dari poemburu selesai dilakukan. Sekarang giliran membaca data dari si target. Seperti yang dikatakan diawal, data dari target akan dimasukan dalam wilayah eksternal, yaitu opportunity dan juga threat. Masih dalam kasus Masmon dalam usaha menjinakan targetnya, kami membaca beberapa hal, yaitu:

Opportunities:
-Punya banyak teman yang bisa membantu
-Diuntungkan karena aktif di kegiatan yang sama
-Target masih jomblo
-Target juga senang olah raga yang sama dengan pemburu

Treats:
-Zaman yang makin modern yang sulit diimbangi si pemburu
-Jurang ekonomi yang cukup jauh
-Banyak saingan
-Jarak tempuh ketempat target yang jauh kalo jalan kaki

Dari pembacaan soal strength, weakness, opportunity, dan juga threat tersebut kita akan masuk dalam tahap berikutnya, yaitu analisa. Analisa sama seperti lazimnya analisis SWOT yang sesungguhnya, yaitu dengan membenturkan hasil pembacaan-pembacaan tadi menggunakan metode saling silang, atau jika digambarkan seperti ini:







Dari gambar diatas pasti terbayang bagaimana cara kami memperlakukan data yang kami peroleh saat itu. Disini saya tidak akan menjelaskan apapun soal hasil analisanya. Ini karena bersifat rahasia dan tidak baik jika dipublikasikan. Tapi jika pembaca ingin analisa sendiri silahkan, gunakan intepretasi berdasarkan contoh data yang ada pada paragraf sebelumnya.
Tahap terakhir dari analisa ini adalah penentuan strategi. Jadi, setelah proses analisa dengan cara membenturkan faktor internal dan eksternal sudah dilakukan sesuai skema, selanjutnya akan muncul kesimpulan-kesimpulan dari pembacaan kita. kesimpulan ini biasanya beragam dan tidak hanya satu. Lalu dari kesimpulan-kesimpulan yang didapat, kita akan berpikir lagi untuk menentukan strategi apa yang cocok untuk dilakukan. Sesudah strategi dirumuskan, lantas apa lagi jika bukan di laksanakan. Ingat, dalam pelaksanaan strategi pemburu tetap harus siap berimprovisasi atas hal-hal yang tak terduga atau lepas dari pembacaan awal. Sehingga, dalam prosesnya, pemburu tetap harus di dampingi oleh rekan-rekan sejawat, terutama yang membantu proses “pembacaan”. Jika strategi tepat dan improvisasi atas hal tak terduga dilakukan dengan tepat, maka, atas ijin Tuhan, target akan jinak dan goal tercapai.
Demikianlah, salah satu pembelajaran yang saya dapat dimasa senggang kuliah bersama teman-teman saya. Satu hal yang perlu diingat, ritual yang saya lakukan hanya sekedar iseng tapi ternyata agak bermanfaat, terutama bagi saya pribadi, dan semoga demikian juga teman-teman saya yang dengan iseng bersama-sama merumuskan cara alternatif dan (mungkin) dianggap ilmiah dalam meraih pasangan dalam konteks hubungan asmara. Tulisan ini pun saya buat untuk sekedar iseng karena tiba-tiba saya rindu dengan masa kuliah, dan ritual “pembacaan” ini menjadi salah satu yang saya rindukan dari kerinduan saya untuk mendengarkan dosen mengajar dan memberi setumpuk tugas dan juga tidak lupa UJIAN. Buena suerte. Salam.

Thursday, May 20, 2010

Siapa bilang jadi seorang pegawai contact center itu mudah?

Dahulu, saya sendiri beranggapan bahwa pekerjaan sebagai pegawai call center merupakan pekerjaan ecek-ecek yang bisa dilakukan oleh siapapun. Tinggal menggangkat telepon, bicara, menutup telepon, dan selesai. Namun tampaknya anggapan saya itu keliru, setelah hampir tiga bulan lamanya saya bergelut dengan pekerjaan seperti ini, saya pada akhirnya memiliki pemahaman yang berbeda pada pemahaman saya sebelumnya. Pekerjaan yang terlihat mudah ini ternyata jauh lebih sulit dari yang dibayangkan. Banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum terjun dalam pekerjaan ini. Dari sekian banyak hal yang harus dipersiapkan, satu hal utama yang menjadi modal utama adalah kesiapan mental. Meskipun harus diakui pada lapangan pekerjaan apa saja hal yang satu ini juga menjadi hal yang krusial.

Mengapa mental? Seorang customer service officer (CSO) yang berposisi di back office atau yang biasa disebut divisi call center, merupakan sebuah barisan “pion” yang ditempatkan oleh perusahaan di barisan paling depan yang menangani seluruh keluhan, kebutuhan informasi, ataupun saran dari seluruh customer dalam lingkup nasional. Sehingga mau tidak mau seorang CSO harus mampu belajar mengenal berbagai karakter customer agar dapat memberi pelayanan yang memuaskan. Misalnya, saya yang bekerja dia call center sebuah bank swasta nasional akhirnya dapat memahami karakter customer dari latar belakang daerahnya. Jadi, ketika menerima calls dari customer hal pertama saya lihat adalah kode area telepon. Dengan melihat kode area tersebut saya tinggal mempersiapkan cara apa yang paling tepat untuk menghadapi nasabah tersebut. Perbedaan karakter nasabah dari tiap daerah ini bisanya menjadi salah satu hal yang membuat mental menjadi sangat penting. Bukan bermaksud rasialis, primordial atau apapun itu. Tapi sepertinya, dari kacamata antropologi atau sosiologi pun menyepakati bahwa karakter setiap orang salah satunya akan terbentuk dari lingkungan atau daerah yang ditempati. Namun, bukan titik ini yang menjadi inti permasalahan akan tetapi pada titik seorang CSO harus siap mental menghadapi segala situasi dan kondisi. Misalnya, saat saya dibilang “GOBLOK… ANJING!!!” saat menjalani prosedur dan tidak menuruti keninginan nasabah, atau saat saya dibilang “tidak sopan” saat berkata “tidak bisa pak, ini sudah jadi ketentuan”, atau saat teman saya diteriaki “FUCK YOU INDONESIA” oleh seorang ekspatriat, atau hal simple, ketika pertanyaan atau keluhan nasabah terlalu sulit dan seorang CSO dituntut sebisa mungkin menutup permasalahan saat itu juga.

Ketidaksiapan mental seperti ini, tak urung membuat banyak teman saya yang tidak tahan dan akhirnya memilih untuk resign. Bahkan, dua CSO yang kebetulan satu tim dengan saya pernah menangis setelah menerima calls dari nasabah. Tidak hanya itu saja, belakangan ada seorang CSO baru yang langsung resign setelah satu hari bertugas. Padahal, untuk menjadi CSO di bank dimana saya saat ini bekerja membutuhkan proses panjang dan tidak mudah. Selain mental, penguasaan product knowledge juga menjadi hal yang sangat penting. Namun perbedannya adalah, product knowledge bisa diasah seiring berjalannya waktu atau biasa dikenal dengan proses learning by doing. Terlepas dari itu, keduanya merupakan senjata terpenting bagi CSO dalam menghadapai nasabah, apalagi nasabah yang senang sekali mengkait-kaitkan ketidakpuasan dengan media.

ANCAM MEDIA, merupakan senjata andalan nasabah jika keinginannya yang terkadang nyeleneh dan muskil tidak bisa dituruti, atau ketika seorang CSO tidak bisa menangani keluhan nasabah dengan baik. Di titik ini, lagi-lagi bukan nama perusahaan yang dibawa akan tetapi yang sudah-sudah nama CSO juga ikut terbawa. Menghadapi nasabah dengan typical pengancam seperti ini seorang mental CSO juga menjadi senjata paling ampuh. Apalagi jika menghadapi nasabah yang memang suka mencari masalah dan berharap mendapatkan respek lebih dari perusahan. Seperti saat salah seorang rekan saya “bertempur” dengan seorang nasabah dan diakhir pembicaraan nasabah berkata “iya mas, saya memang suka cari-cari masalah sama kalian”. Nah, pekerjaan iseng seperti ini sering sekali menjadikan seorang CSO alih-alih korban pelampiasan kekesalan nasabah. Sehingga, habislah seorang CSO yang tidak bisa menangani nasabah semacam ini.

Seperti yang kita tahu, bahwa media saat ini menjadi pembentuk opini publik yang paling ganas dan berpengaruh dan inilah yang paling dihindari oleh perusahan-perusahan besar serta dihindari oleh CSO manapun. Pada titik ini, kita bisa mengamini bahwa barisan pion CSO secara tidak langsung menjadi penyanggah sekaligus garda pelindung nama baik perusahaan. Ketika nasabah puas dengan pelayanan CSO maka nama perusahaan akan terangkat dan sebaliknya, ketika pelayanan CSO tidak bisa membuat nasabah puas, maka nama perusahaan juga akan terpengaruh. Peran penting inilah yang menjadikan Call Center menjadi bisnis yang besar dan sigifikan. Bayangkan saja, hampir tiap bulan diperusahaan saya bekerja paling tidak ada 20 atau lebih CSO baru yang masuk. Tuntutan dari ribuan nasabah yang menghubungi nomor call center menjadikan kebutuhan CSO call center tidak pernah putus-putus. Income yang ditawarkan juga cukup menjanjikan, apalagi untuk lapisan fresh graduated. Income perbulannya bisa melebihi mereka yang bekerja dibidang yang sifatnya administratif.

Meskipun demikian, saya pribadi tidak menjaminkan diri bahwa pekerjaan sebagai CSO sangat prospektif untuk kedepannya. Sebagai pengalaman dan sekedar referensi kerja mungkin bisa, namun untuk perkerjaan permanen yang prospektif saya belum menemukan jaminannya.

Saturday, January 16, 2010

Merindu Kota Satria

Aku mati dalam rindu yang membara
Rindu hangatnya kota Satria
Dengan mendoan dan sega bandem disudut pasar wage selepas senja
Aku rindu
Mati aku dalam rindu

Ditemani Bob Marley
Aku membuka album demi album kenangan lama yang sempat menguap
Mengendus sedapnya anggur merah
Membuai kehangatan malam kampus perjuangan
Bersama Angga, Diaz , dan Henrik
Kami berdiskusi sepanjang malam
Dari soal politik, musik dan kelamin
Bahkan terkadang kami menyentil Tuhan sambil telanjang
Mati aku dalam rindu
Mati aku dibalik kelambu

Bob Marley masih bernyanyi
Jika lelah terkadang diselingi penyanyi lokal
Namun tetap reggae seperti Lodse
Mati aku dalam rindu
Ingin berdansa tanpa lantai marmer, tuxedo dan dasi kupu-kupu
Tenggelam aku dalam rindu
Mengingat Yahya bergoyang fana
Dengan rambut yang membawa petaka
Bukan untuk dirinya
Namun makhluk disekitarnya
Ampun
Aku meminta ampun
Aku tak ingin mati dalam rindu
Aku ingin rindu hidup dalam diriku


Griya Peninsula, 14 Januari 2010

Untuk Persahabatan Singkat

Dalam senja pikiranku berputar
Membentuk rangkaian rune-rune kuno tanpa makna yang jelas
Aku menjadi jalang
Bagai pelacur yang menjajakan tubuhnya
Merangkai kata tanpa makna
Menggapai makna tanpa kata

Dalam senja aku terbakar
Meleleh dalam relief-relief jalur layang
Melintasi kepala-kepala yang mengais rupiah
Tanpa rasa kasihan

Terdiam kau disana
Karena aku hujam kata-kata

Matilah kau disana
Terbenam durja atas pisau yang kau ciptakan

Disini aku hanya tertawa dalam hati
Melihatmu bagai badut tolol yang merasa pintar

Ha! Aku katakan padamu dalam hati
Silahkan mengejar matahari
Karena aku hanya akan terdiam
Menatapmu
Dan menertawakanmu
Selalu
Tiap saat
Atas kebodohanmu
Mengaburkan namaku


Dibawah flyover, 11 Januari 2009

Untuk Sebuah Alasan

Untuk sebuah alasan aku coba lari dari mimpi
Untuk sebuah alasan aku menantang matahari dan pagi
Untuk sebuah alasan rasa kantuk jadi riak kecil yang aku acuhkan
Untuk sebuah alasan minyak bercampur dengan segelas air

Untuk sebuah alasan aku terbangun dalam pagi
Mencoba menghadap Tuhan yang sering kali tak kusadari kehadirannya
Untuk sebuah alasan aku menatapmu dari balik jendela kamarku
Berharap kau juga membalas tatapanku meski dalam sekejap mata

Sudah begitu lama aku terasing dirumah ini
Hanya menjalani siklus dengan grafik yang datar
Aku bosan, berharap mendapatkan rangsangan
Untuk sekedar menyapa atau disapa

Bertanya aku
Dalam minimnya kata-kata yang terbelenggu beban kerja
Berpikir aku
Dalam sekat-sekat bilik yang tak lagi menarik hati
Berontak aku
Dalam berbagai tanya dan pikiran-pikiran yang tidak jelas maknanya
Terhempas


Griya Peninsula, 9 Januari 2010

Wednesday, January 13, 2010

Outsourcing dan Air Mata Seorang Kawan

Selasa, 12 Januari 2010 mungkin menjadi hari yang biasa saja bagi sebagian besar orang lain di luar saya dan teman-teman training kerja saya. Selasa, 12 Januari 2010 atau jika bisa saya sebut sebagai 12 Jan 10 merupakan hari yang cukup bersejarah bagi saya dan teman-teman training kerja saya. Bagaimana tidak, hari tersebut merupakan hari pengumuman kelulusan dari training yang saya dan teman-teman saya ikuti di salah satu bank swasta nasional.
Tiga minggu lamanya saya dan teman-teman saya menjalani training. Dari mulai menerima materi layaknya mahasiswa di ruang kuliah, sampai dengan mentoring bersama senior kami. Semua itu merupakan proses yang harus kami lalui untuk mendapatkan satu jatah kursi kerja beserta hak dan tanggung jawabnya. Diakhir training kami pun harus menjalani ujian training, dimana ujian terbagi atas dua sesi. Pertama adalah ujian tulis, ujian ini merupakan ujian product knowledge dari perusahan tempat saya dan teman-teman saya mengikuti training. Kedua adalah ujian role play, ujian ini merupakan ujian praktek atau simulasi dari pekerjaan yang harus kami lakukan kelak, yaitu sebagai customer relation officer pada divisi call center. Layaknya ujian masuk perguruan tinggi, dalam ujian training itupun kami harus siap menerima kenyataan pahit jika kami tidak lolos karena nilai ujian kami dibawah nilai yang telah ditetapkan.
Buat saya pribadi, pekerjaan yang akan saya lakoni ini berbanding terbalik dengan latar belakang pendidikan saya. Untuk itu, dalam training ini saya memualai semuanya dari nol. Kondisi ini juga dialami oleh beberapa teman training kerja saya. Diantara mereka ada yang senasib dengan saya, yaitu banting steer demi mengais rupiah. Bahkan, demi pekerjaan dengan status pegawai OUTSOURCING. Bagaimana tidak, hampir semua perusahan-perusahaan besar di Indoenesia atau Jakarta khususnya menggunakan jasa OUTSOURCING dalam merekrut karyawan. OUTSOURCING! OUTSOURCING! Dan OUTSOURCING! Saya ulangi kata itu biar kita selalu ingat bahwa OUTSOURCING merupakan sistem yang harus selalu kita waspadai.
Dalam proses training yang saya dan teman-teman saya lalui banyak kejadian lucu yang kami lewati. Salah satunya adalah seorang teman saya yang saking pusingnya dengan materi training sampai jatuh sakit lalu salah minum obat. Alhasil, setiap pagi dia meminum dua kaleng susu cap beruang demi menetralisir racunnya. Tidak hanya itu, atas anjuran teman dia sampai harus mengoleskan balsam dengan bau yang menyengat kesekitar leher dan kepalanya serta menjalani CT scan untuk membuktikan bahwa otaknya baik-baik saja. Memang harus diakui bahwa kelas training kami agak berbeda dengan kelas yang lain. Kami menyebut kelas kami sebagai kelasnya orang autis. Hal ini karena tingkah laku saya dan teman-teman saya yang sering kali aneh dan berlebihan tiap kali mendapatkan materi training yang sulit dimengerti. Meski demikian, saya beranggapan bahwa kelas kami adalah kelas yang menarik dan menyenangkan.
Kembali lagi pada 12 Jan 10. Seperti yang saya katakan diatas, hari itu merupakan hari dimana nasib saya dan teman-teman saya ditentukan untuk satu tahun mendatang. Setelah menjalani training dan ujian akhirnya saya dan teman-teman saya akan mendengarkan pengumuman hasil nilai training sekaligus pengumuman mengenai siapa saja yang berhak menjadi karyawan OUTSOURCING diperusahaan kami mengikuti training. Satu, dua, tiga nama disebutkan satu persatu. Saya dan teman-teman saya saling pandang, jantung kami berdegup kencang seolah ingin menyeruak keluar. Saya mencoba tenang, teman disebelah saya berdoa disudut bibirnya.
Pengumuman selesai dibacakan. Tampaknya saya salah satu orang yang beruntung karena masuk dalam daftar peserta training yang lulus ujian sehingga berhak menjadi karyawan OUTSOURCING di perusahaan tersebut. Namun, tiba-tiba suasana janggal. Kami saling pandang dengan rasa cemas. Beberapa teman tidak lolos dan sisanya menyerah ditengah jalan. Kecemasan kami makin menjadi ketika salah seorang teman yang dikenal giat untuk menimba ilmu dan bersemangat untuk mengejar pekerjaan itu tidak lulus dalam ujian. Sebuah tamparan luar biasa bagi teman saya yang tidak lulus. Lalu, mau tidak mau dia meneteskan air mata tanda kecewa. Seketika, kesedihan menyelimuti suasana sore yang seharusnya bahagia. Kami semua bersedih dan seakan tidak rela jika salah satu teman saya yang giat itu harus menerima kenyataan pahit mengenai ketidak lulusannya.
Beberapa teman termasuk saya bergerak reaksioner. Kami coba melakukan semacam ‘advokasi’ dengan meminta pihak perusahaan memberi kesempatan sekali lagi kepada teman saya yang tidak lulus tersebut. Namun apa lacur, sistem terlalu kaku dan kokoh untuk kami robohkan. Tangan kami pun tak sanggup untuk sedikit menggetarkan tembok sistem yang angkuh. Teman saya yang tidak lulus akhirnya berhenti berharap dan mencoba lapang menerima kenyataan. Saya salut padanya, dia seorang pemuda perantauan dari seberang pulau yang mencoba peruntungan di Ibu kota. Sama halnya dengan saya, tapi tampaknya saya sedikit lebih beruntung. Namun demikian, impian yang kami bangun bersama untuk dapat tinggal bersama dalam satu rumah kontrakan kini terhempas begitu saja.
Saya terus berpikir, inikah realita pencari kerja di masa kini? Demi status pegawai OUTSOURCING pun kami harus meneteskan air mata. Entah titik mana yang harus di pertanyakan. Sistem yang ada dinegara inikah? Mentalitas bangsa inikah? Atau apa? Saya tetap menyesalkan tetesan air mata yang keluar demi pekerjaan dengan status pegawai OUTSOURCING. Namun disisi lain, saya dan teman-teman saya juga tidak bisa berkutik menghadapi situasi seperti ini. Semoga ada yang mau dan sempat mengadakan riset kecil mengenai OUTSOURCING dan sedikit memberi gambaran serta catatan kaki sebagai wacana baru yang bisa digulirkan.

Friday, January 1, 2010

Catatan Bodoh : Kisah usang yang ga pernah dimulai

Dalam kehidupan, kita mengenal pacaran sebagai sebuah masa untuk menjajaki pasangan kita satu sama lain. Meski menjadi sebuah perdebatan antara boleh atau tidaknya pacaran menurut suatu agama, tetap saja pacaran masih banyak dilakukan oleh banyak orang yang menyebut dirinya homo sapiens. Saya tidak pernah tahu asal mula munculnya kata ‘pacar’ dan ‘pacaran’ itu dari mana dan kapan tepatnya. Seakan-sakan dua kata tersebut muncul sebagai sesuatu yang ‘taken from granted’ dan diamini serta dipakai oleh kebanyak orang (Indonesia) sebagai kata yang paling bisa merepresentasikan masa penjajakan antar pasangan.
Suka tidak suka, mau tidak mau pacaran sudah menjadi sebuah tren dan gaya hidup masyarakat Indonesia, dari yang remaja, dewasa, orang tua, bahkan sudah menjadi menu yang disajikan untuk anak-anak. Saya adalah makhluk hidup jenis homo sapiens yang juga mengalami dan menjalani apa yang disebut dengan pacaran. Saya pertama kali pacaran sejak kelas 6 SD dengan perempuan yang bernama Ine, waktu yang terlalu cepat untuk mengalami fase ini. Untuk itu saya berkeyakinan bahwa saya dan pacar saya waktu itu berpacaran hanya atas dasar cinta monyet atau cinta buta sekalian juga tidak masalah, karena memang saya juga bingung kenapa saya waktu itu bisa berpacaran dengan dia. Seinget saya adalah memang pada waktu itu pacar-pacaran menjadi tren di kelas saya, dan ada sekitar 5 pasangan waktu itu termasuk saya.
Pada masa itu pula, saya mendapatkan kecupan dipipi untuk pertama kali dari perempuan yang bukan muhrim saya dan sayangnya sampai sekarang saya tidak pernah membalas kecupan itu. Saya juga sudah tidak pernah bertemu pacar pertama saya itu. Eits, pacar pertama bukan berarti cinta pertama saya lho. Saya pertama kali suka terhadap seorang perempuan ketika saya kelas 3 SD, yang kemudian hari saya pahami dengan istilah cinta pertama. Saat itu ada perempuan manis berambut panjang yang pindah kesekolah saya entah dari mana. Perempuan itu bernama Hesti. Pertemuan pertama kami dibangku kelas tiga memberi kesan mendalam kepada saya, apalagi ketika ada mekanisme perubahan formasi duduk campuran, antara laki-laki dan perempuan. Itu menjadi awal pembuka kedekatan kamu berdua, sampai-sampai saya punya panggilan tersendiri buat dia, ‘buntut kuda’. Saya memanggilnya dengan sebutan itu karena kambutnya yang panjang dan selalu diikat, sehingga rambutnya menyerupai ‘buntut kuda’.
Masa-masa indah bersama buntut kuda berakhir pada kelas 4 SD ketika harus ada pemisahan sekolah kami menjadi dua bagian, dia masuk dalam SDN TUGU 1 dan saya SDN TUGU 2. Semenjak itu, kami jarang berbicara lagi, entah kenapa kami justru seperti dua orang yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya, dan saya hanya bisa memandangnya dari lewat jendela setiap kali saya lewat kelasnya. Hal ini berjalan sampai dengan waktu kelulusan kami. Namun demikian si Buntut Kuda selalu punya tempat tersendiri dihati saya, meski itu hanya sebagai cinta monyet belaka.
Memasuki fase selanjutnya dalam kehidupan saya, yaitu masa SMP. Waktu itu saya besekolah di SMP N 3 Bekasi yang lebih dikenal dengan sebutan Kha-Soes 75 yang diambil dari nama jalan tempat sekolah saya berdiri, yaitu Jl. KH. Agus Salim No.75. Saya tidak pernah membayangkan bahwa disekolah ini saya akan bertemu kembali dengan si Buntut Kuda. Rasa senang yang saya alami tidak bisa saya ungkapkan lewat kata-kata, yang pasti adrenalin saya selalu terpacu ketika bertemu dengannya. Masa MOS saya lewati dengan gulang gumilang dan ketika masa untuk sekolah dimulai ada sebuah peristiwa yang tidak pernah bisa saya lupakan sampai detik ini. Peristiwa itu terjadi ketika jam istirahat sekolah. Saat saya sedang duduk dan besendagurau bersama teman sabangku saya tiba-tiba ada seorang perempuan yang datang kekelas saya sambil berteriak-teriak: MANA YANG NAMANYA DIMAS? Sontak saya terkejut dan teman-teman saya langsung bilang : tuh yang lagi duduk diatas meja paling belakang! Saat itu saya bingung dan tidak mengerti apa yang terjadi, karena saya juga tidak pernah mengenal perempuan itu, yang saya tahu hanya dia sekelas dan duduk sebangku dengan si Buntut Kuda. Dengan tergesa-gesa perempuan itu menghampiri saya dan bertanya: Elu yang namanya Dimas? Dan dengan tegas saya jawab: iya, emang kenapa? Setelah itu dia terdiam sejenak dan mengatakan kalimat yang selalu terngiang ditelinga saya, dia mengatakan: temen sekelas gw ada yang suka sama elu, dia temen SD lu? Mendengar informasi itu, hati saya mencelos dan otak saya berpikir dengan cepat dan mencari-cari kemungkinan yang akan terjadi setelah itu.
Semenjak kejadian itu saya selalu menyempatkan diri untuk memperhatikan si buntut Kuda setiap kali dia ada dalam jangkauan pandangan saya. Bahkan, saya punya strategi jitu untuk selalu memandang dia meskipun sedang jam pelajaran. Strategi itu adalah ‘mengintip’. Yaps, saya duduk dibangku paling belakang disayap kanan kelas saya, nah kebetulan kelas saya dan kelas si Buntut kuda terhubung dengan sebuah pintu tepat dibelakang saya. Pada suatu hari, saya mendapati bahwa pintu itu sudah rusak dan gagang pintunya sudah hilang, otomatis hilangnya gagang pintu itu meninggalkan sebuah lubang yang cukup untuk melihat ruang dibelakang kelas saya. Ketika pertama kali saya mellihat atau lebih tepatnya mengintip lewat lubang itu, saya dapati si Buntut Kuda duduk dimeja terdepan dan sejajar dengan pintu tempat saya mengintip. Wah, beruntung pikir saya. Semenjak itu dan berminggu-minggu setelahnya, saya bisa memandang si Buntut Kuda itu lewat lubang pintu itu. Tapi jangan berpikir macam-macam, karena saya tidak pernah mendapati pemandangan yang “begitu-begitu”.
Perilaku saya tampaknya mulai disadari oleh si Buntut Kuda dan mungkin teman-teman kelasnya, karena beberapa waktu kemudian, lubang itu ditutup dengan kertas sehingga tidak menyisakan ruang sedikitpun bagi mata saya untuk mengamati si Buntu Kuda. Sial pikir saya.
Di pertengahan kelas 1 saya bertemu dengan seorang perempuan yang cukup cantik. Kebetulan di adalah kakak kelas saya, saya bertemu dia saat saya sedang mengikuti kampanye pemilihan ketu OSIS di sekolah saya. Pada saat saya kampanye, saya sangat malu ketia dia menggodai saya di depan teman-temannya. Namanya Vica, yang belakangan saya ketahui sebagai tetangga di kompleks rumah saya dulu. Kehadiran VIca cukup memberi pengaruh yang luar biasa pada obsesi terhadap si buntut kuda. Tak lama berkenalan Vica menyatakan perasaanya pada saya dari balik jendela kelasnya. Waktu itu tidak langsung saya jawab, karena saya berpikir keras soal buntut kuda. Ketololan saya waktu itu adalah, saya menerima Vica dan mengabaikan si buntu kuda. Kemudian, hubungan itu pun hanya bertahan kurang dari empat bulan. Saya menebaknya karena saya tidak bisa membuatnya nyaman. Semuanya memang soal kenyamanan, dan terus soal kenyamanan. Kenyamanan hampir selalu jadi alasan ampuh untuk memutuskan sebuah hubungan antar dua homo sapiens yang berbeda kelamin.
Satu tahun terlewati dan saya sudah menginjak kelas dua. Lagi-lagi saya harus berpisah jumpa dengan si buntut kuda karena sistem belajar yang dibagi atas dua shift, yaitu pagi dan siang. Saya kebagian sekolah siang dan buntut kuda pagi. Kondisi ini berlangsung selama setahun. Dan sepanjang tahun itu, saya dekat dan berpacaran dengan seorang perempuan yang berinisial A (untuk yang ini saya hanya menyebutkan inisial, karena dia punya karakter yang berbeda, dan saya coba menghargai itu). A merupakan partner kerja di kepengurusan OSIS. Tapi saya tidak mau memungkiri bahwa hubungan saya dengan A, sangat menyenangkan. Kami melewati banyak hal, sedikit ngambek namun tak pernah ada perselisihan yang membutuhkan waktu yang begitu panjang. Hubungan saya dengan A adalah hubungan terlama dari semua hubungan yang pernah saya lalui bersama orang lain. Meski sebagai teman, hubungan ini masih terjalin baik sampai dengan sekarang.
Hubungan saya dengan A sempat berakhir tiga kali. Kali pertama, karena dia menerima saya dengan terpaksa. Kali kedua, karena saya tidak nyaman dengan sikap dia dalam memperlakukan saya, kali ketiga adalah karena kami tak sanggup untuk Long Distant Relationship. Pada kali kedua saya dan A berpisah secara status, saya kembali mendekati Buntut Kuda. Dengan dibantu oleh seorang teman, saya mencoba melakukan penjakakan lagi. Waktu itu menjelang kelulusan atau lebih tepatnya menjelang liburan akhir sekolah kami ke Jogja, saya mencoba mengungkapkan perasaan saya kepada si Buntut Kuda. Dengan begitu gemetar saya mencoba mengungkapkan perasaan saya yang terpendam semenjak kelas tiga bangku sekolah dasar. Lalu, saya mendapatkan jawaban “tidak” dengan begitu tegas. Kemudian dia mejelaskan beberapa alasan, cukup rasional, dan mau tidak mau saya terima keputusan dan alasan di menolak saya. Fiiuuuuhhh…
Lulus SMP dan memasuki dunia SMA. Ini adalah periode dimana saya tidak prnah berhubungan sama sekali dengan si Buntut Kuda. Kalau tidak salah, saya hanya pernah sekali bertemu dengannya, dan itupun hanya sambil lalu. Kondisi ini berlangsung sampai dengan saya kuliah. Saat kuliah, umat manusia melakukan banyak sekali terobosan di dunia cyber, dan saya pun mencoba melakukan terobosan lewat sana. Friendster diciptakan, sebuah situs pertemanan yang waktu itu dianggap begitu ajaib karena bisa mempertemukan satu orang dengan orang lainnya jika keduanya memiliki account di Friendster. Lewat Friendster saya mencoba mencari si Buntut Kuda, dan EUREKA!!! Aya berhasil menemukannya dan kembali menjalin hubungan pertemanan yang lama telah memudar. Setelah Friendster tidak lagi popular dan tergantikan oleh Facebook sebagai situs pertemanan yang lebih menyediakan fitur menarik, saya masih menjalin hubungan pertemanan denfgan si buntut kuda. Namun, agaknya tidak pernah bertemunya kami selama lebih dari enam tahun telah membuat semuanya lebih berbeda. Perasaan saya kepadanya hilang sepenuhnya, tapi dia tetap memiliki satu tempat spesial di hati saya. Meski kisah special kami tidak pernah dimulai, sampai dengan detik ini.

Friday, December 25, 2009

Lho Kok, Ditarik di Dalam Pak?

Dalam studi kebijakan publik, kebijakan publik secara singkat dimaknai sebagai serangkaian tindakan yang ditetapkan berdasarkan undang-undang melalui peraturan-peraturan yan berfungsi untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada di masyarakat. Pajak atau retribusi merupakan salah satu jenis kebijakan publik yang mempunyai fungsi sebagai salah satu sumber devisa negara. Sumber devisa yang terakumulasi ini nantinya akan diolah oleh pemerintah untuk biaya pembangunan di berbagai bidang kehidupan masyarakat.

Berkaitan dengan pajak atau retribusi, diterminal bus terdapat salah satu jenis retribusi berupa peron yang harus dibayarkan oleh masyarakat yang datang kesebuah terminal bus. Peron ini biasanya ditarik saat seorang pengunjung terminal hendak memasuki kawasan dalam terminal. Besaran peron bervariasi tergantung dengan kebijakan tiap pemerintah daerah karena hasil pendapatan peron akan diolah dalam APBD.

Berhubungan dengan peron, saya punya cerita yang -bagi saya- sangat menggelikan. Cerita ini merupakan sebuah kejadian nyata yang terjadi pada tanggal 18 Desember 2009 di terminal Bekasi. Waktu itu saya hendak pulang kekampung halaman saya di Purwokerto guna menonton sebuah pementasan teater (yang akhirnya tidak berhasil saya tonton). Keberangkatan saya ke Purwokerto waktu itu menggunakan sebuah bus milik salah satu perusahaan swasta yang berasal dari salah satu kota di wilayah Jawa Tengah. Setelah membeli tiket dan menunggu selama empat jam, akhirnya bus yang saya tumpangi berangkat. Waktu itu sekitar pukul lima sore, bus mulai berjalan pelan menuju pintu keluar terminal. Belum sempat keluar terminal, tiba-tiba seorang petugas DLLAJ dengan seragam lengkap naik ke bus yang saya tumpangi. Saya terkejut, ketika petugas itu meminta uang sebesar seribu rupiah kepada penumpang yang ada dalam bus itu dengan dalih uang peron. Dalam hati saya bertanya “maksudnya apa ini?” Saya heran, karena sepanjang yang saya tahu, bahwa peron dikenakan pada pengunjung terminal ketika hendak masuk ke terminal. Cara penarikan peron saat penumpang didalam Bus tanpa memberikan karcis peron tersebut mengundang cukup banyak pertanyaan. Di kota yang cukup besar seperti Bekasi, seharusnya mekanisme yang dipakai tidak “urakan” seperti itu. Saya justru menganggap cara seperti itu seperti pengemis yang masuk kedalam bus dan meminta sedekah, namun bedanya ini ‘berseragam’.

Ketika itu, saya melihat setiap penumpang mengikuti kemauan petugas dengan membayarkan uang sebesar seribu rupiah kepada petugas tersebut. Ketika petugas itu menghampiri tempat duduk saya, saya bertanya padanya sambil memberikan uang sebesar seribu rupiah “lho kok bayar peron di dalam bus pak? Emang peraturannya gimana sih?” dengan agak cemberut dan melotot si petugas diam saja dan mengembalikan uang saya setengahnya atau sebesar lima ratus rupiah. Dengan demikian ada perlakuan yang berbeda antara saya dengan penumpang lainnya. Saya hanya membayar lima ratus rupiah sedangkan penumpang lain membayar seribu rupiah. Perbedaan perlakuan ini apakah karena saya berlagak kritis dengan bertanya atau seperti apa saya juga tidak paham sampai dengan sekarang. Namun, saya rasa bukan dititik itu permasalahannya. Hal yang ganjil menurut saya adalah, jika memang ada kebijakan untuk menarik uang peron kepada setiap pengunjung penumpang bahkan ketika sudah berada dalam bus yang sedang berangkat mengapa tidak dipukul rata semua sebesar seribu rupiah dan diberikan karcis peron? Ini seakan-akan menjadi suatu hal yang tidak jelas dasar peraturannya. Bahkan, ini bisa saja dianggap sebagai pungutan liar yang dilakukan justru oleh petugas DLLAJ diterminal Bekasi. Berbeda dengan mekanisme yang ada di kampong halaman saya di Purwokerto. Di Purwokerto, peron ditarik kepada pengunjung yang hendak masuk terminal. Biasanya, pengunjung yang hendak bepergian atau sudah memiliki tiket bus tidak ditarik peron lagi. Dengan kata lain, hanya pengantar saja yang ditarik biaya peron.

Jika melihat perbandingan yang ada di terminal Purwokerto dan terminal Bekasi akan ditemukan perbedaan mekanisme yang sangat kontras sekali. Mungkin bagi beberapa orang persoalan ini dianggap sepele. Namun, jika kita mengacu pada tuntutan untuk menciptakan good governance yang harus dilaksanakan oleh pemerintah, mekanisme penarikan peron di terminal Bekasi tentunya sangat jauh dari situ. Ini karena dengan ditariknya peron di dalam bus, ketika bus hendak keluar terminal, tentunya membuat penumpang bus tidak nyaman. Selain itu, kejadian ini juga berpotensi untuk menimbulkan preseden buruk terhadap petugas DLLAJ di terminal Bekasi. Salah satu preseden buruk yang mungkin akan muncul adalah adanya indikasi pungutan liar yang mengarah pada korupsi di tingkatan petugas DLLAJ di terminal Bekasi. Ini juga menguatkan anggapan bahwa budaya korupsi semacam itu memang sudah menjadi akar yang sulit dicerabut, bahkan di birokrasi-birokrasi yang bergerak di akar rumput.

Jika saja ini dianggap sebagai pungutan liar maka yang harus dikaji adalah, pertama, mengenai sistem, peraturan, ataupun undang-undang yang mengatur peron sebagai salah satu jenis retribusi. Kedua, mengenai perilaku minor yang dilakukan oleh petugas-petugas DLLAJ dilapangan. Jika kedua hal ini dikaji dan dibenahi, bukan tidak mungkin kejadian seperti yang saya ceritakan tidak perlu terjadi (lagi).

Thursday, December 10, 2009

Si Kecil Itu Menggerutu Kasar

7 Desember 2009 saya hendak bepergian kerumah seorang kawan disalah satu bagian kota Bekasi. Saya berangkat dari rumah tepat jam tiga sore setelah huja reda dan menyisakan genangan air dibeberapa cekungan jalan. 15 menit lamanya saya menanti angkutan kota 12B yang akan mengarahkan saya menuju rumah seorang kawan. Belum satu kilo berjalan, angkutan kota berhenti di salah satu rumah sakit swasta untuk menurunkan beberapa penumpang. Setelah penumpang turun, angkutan kota menjadi agak sepi, hanya ada 4 penumpang saja termasuk saya, tiba-tiba dua orang pengamen jalanan masuk kedalam angkutan lkota yang saya naiki. Saya perhatikan dengan seksama, usia du pengamen itu masih sangat muda. Kira-kira masih berusia 11-13 tahun. Salut sekaligus miris perasaan saya saat itu. Mereka seharusnya tidak disini dan mengamen, mereka seharusnya dirumah, istirahat setelah pulang sekolah. Namun kenyataan berkata lain, realita hidup tak seindah yang dibayangkan.

Mereka berdua memulai pertunjukan mereka, dengan alat musik berupa kentrung yang lusuh dan tidak jelas bentuk dan suaranya serta sebuah kendang dari pipa mereka mainkan dengan seenaknya. Mereka bernyanyi dua buah lagu milik ST 12. Beberapa penumpang terlihat tidak nyaman dengan permainan musik mereka. Saya diam dan tetap mendengarkan. Belum selesai lagu kedua dinyanyikan, mereka menodongkan plastik bekas wadah permen, tanda meminta bayaran atas pertunjukan mereka. Malangnya, saya tidak punya kecil yang bisa saya berikan pada mereka. Untuk membayar ongkos angkutan kota saja saya harus memakai uang bernilai besar. Tidak hanya saya, penumpang lain juga tidak ada yang mengisi kantong plastik bekas bungkus permen yang disodorkan si kecil pemain kendang dari pipa itu.

Karena tidak ada yang memberi uang pada mereka, si kecil pemain kentrung tampak agak kesal, wajahnya tampak memerah dan mulai menggerutu. dia berbicara beberapa kalimat dengan nada-nada kasar dan menyindir kami penumpang angkutan kota yang tidak memberikan uang sebagai tanda apresiasi dari pertunjukan mereka. Semua penumpang diam saja, termasuk saya. Angkutan kota berhenti disebuah perempatan karena traffic light sedang berwarna merah. Dua pengamen cilik itu turun sambil menggerutu, kali ini dengan suara yang lebih lantang dan lebih kasar. Begini katanya " wooooiiiii.. orang-orang jaman sekarang pada pelit, gila, pada kagak belajar agama apa, gw sumpahin rezekinya seret"

Pada dasarnya, saya cukup tertampar dengan kata-kata yang diucapkan itu. Disatu sisi saya tersinggung, disatu sisi saya juga iba. Saya merasa dalam posisi yang seharusnya tidak divonis seperti itu, dan mungkin juga penumpang yang lain. Dalam sisa perjalanan saya terus memikirkan kejadian yang baru saja saya alami. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah "sekeras itukah sosok yang diciptakan dari kehidupan di jalanan?" Mungkin saya tidak heran jika kalimat makian itu muncul dari seorang yang lebih tua. Tapi vonis itu muncul dari anak usia 10-13 tahun. sampai dengan hari ini saya selalu kehabisan kata-kata jika terbayang kejadian itu. Mungkin bari beberapa orang itu sebagai hal yang remeh temeh, tapi bagi saya yang mengalaminya tidak demikian. Bisa jadi itu menggambarkan mentalitas banyak dari sosok yang dibentuk dari kehidupan jalanan, tapi semoga ini salah.

Friday, December 4, 2009

Naik Busway itu menyenangkan

Sudah hampir satu bulan saya menetap di Bekasi. Waktu-waktu yang saya miliki selama di Bekasi saya habiskan untuk mencari pekerjaan. Dengan bermodal ijasah dan gelar sarjana ilmu politik dengan IPK 3,22 saya kirim lamaran dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Kemudian, berbagai macam test masuk kerja pun saya ikuti, dari mulai test berupa psikotes sampai dengan wawancara. Bahkan, dalam satu hari saya bisa mengikuti test di dua perusahaan yang berbeda. Ini saya lakukan demi mewujudkan mimpi saya, yaitu ‘menaklukkan Jakarta’. Tampak agak heroik memang kata-kata yang saya gunakan, namun paling tidak ini menjadi semacam motivator bagi saya untuk tetap berusaha dan berusaha.

Di Bekasi, saya adalah pendatang. Saya tinggal dirumah saudara atau diistilahkan dengan ‘menumpang’. Karena menumpang, banyak konsekuensi-konsekuensi yang harus saya terima dan dijalankan selama proses mencari pekerjaan. Salah satu konsekuensinya adalah saya tidak memiliki fasilitas kendaraan pribadi yang dapat saya gunakan untuk bepergian. Alhasil, saya hampir selalu bepergian menggunakan kendaraan umum yang disediakan pemerintah, contohnya adalah busway.

Di Indonesia sendiri, fasilitas busway belum lama disediakan oleh pemerintah Jakarta. Sebagai kendaraan umum a la alat transportasi dinegara-negara seperti China atau Jepang, busway diharapkan dapat mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta. Namun, apa lacur, egoisme individu masyarakat kota untuk menaiki kendaraan pribadi ternyata belum mampu dikalahkan oleh kemunculan busway sebagai alat transportasi publik. Alhasil, busway lagi-lagi hanya menjadi alat transportasi masyarakat kelas menengah kebawah dalam strata sosial masyarakat kota.

Bagi saya sendiri, busway merupakan alat transportasi yang luar biasa. Hanya dengan Rp.3500 untuk sebuah tiket busway saya bisa berkeliling kota Jakarta asal tidak keluar dari shelter busway. Hal ini kemudian benar-benar saya manfaatkan secara maksimal. Disetiap kesempatan, saya selalu memilih untuk naik busway ketika saya bepergian, khususnya ketika ada panggilan test atau wawancara dari suatu perusahaan. Disamping lebih murah, busway juga (cenderung) dapat membuat saya terhindar dari kemacetan, sehingga saya dapat lebih cepat sampai ke tempat tujuan.

Berbicara soal macet, saya ingat saat masih kuliah dulu, ada seorang teman yang mengatakan bahwa, kemacetan di kota besar seperti Jakarta adalah akibat dari karakter masyarakat kota yang individualis dan mengedepankan prestige. Apakah itu benar? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Jika ditelaah lebih dalam, permasalahan macet lebih tepat jika dikaitkan dengan kebijakan pemerintah. Pemerintah punya andil yang cukup besar dalam hal kemacetan dan juga tidak maksimalnya fasilitas umum seperti busway yang diharap dapat mengurangi kemacetan. Jika saja, pajak bea dan cukai kendaraan impor dinaikkan, pajak kepemilikan kendaraan pribadi dinaikkan, jumlah produksi kendaraan ditekan, atau sistem kredit kendaraan di revisi mungkin bisa saja tingkat kemacetan di Jakarta atau kota besar lainnya dapat ditekan. Hanya saja pemerintah (mungkin) belum berani untuk mengeluarkan kebijakan seperti demikian. Padahal, kebijakan yang tadi saya sebutkan, bukan untuk ‘mematikan’ industri otomotif di Indonesia, namun untuk mengantisipasi dampak negatif dari ganasnya industri otomotif di Indonesia, contoh yang paling jelas adalah macet

Di lain sisi, saya menemukan kenikmatan-kenikmatan tersendiri saat saya menaiki busway. Misalnya, saya merasa seakan-akan saya berada di Jepang ketika menaiki busway. Agak berlebihan memang, tapi ini memang benar saya rasakan. Ketika saya melihat begitu banyak orang-orang yang hendak berangkat kerja, berdesak-desakkan dalam busway, saya merasakan suasana yang berbeda (paling tidak saya melihat suasana seperti itu di film dengan setting tempat di Jepang). Selain itu, menaiki busway memberi pelajaran berharga bagi saya dalam hal berinteraksi dengan dunia sosial. Ini mungkin tidak bisa kita temukan ketika kita menaiki kendaraan pribadi. Dengan kata lain, setiap hari kita (kemungkinan) hanya bertemu teman-teman kantor atau orang-orang yang terbatas dalam lingkungan tertentu. Akan tetapi, ketika kita naik busway, kita punya kesempatan lebih untuk bertemu -atau kalau kita beruntung- berkenalan dengan orang baru yang belum kita kenal sebelumnya. Bepergian dengan busway atau dengan kendaraan umum lainnya, memberi kita ruang agar tidak terasing dalam fasilitas pribadi yang kita miliki, disamping dapat mengurangi kemacetan kota karena dominasi kendaraan-kendaraan pribadi yang begitu banyak. Misalnya, seperti yang saya alami ketika menaiki busway dari Manggarai menuju Kampung Melayu. Saat saya sedang diam menunggu busway saya bekenalan dengan seorang laki-laki yang bekerja di sebuah perusahaan swasta. Dalam perkenalan itu kami banyak berbisara soal peluang kerja di Jakarta dan juga tips-tips dalam mencari kerja. Keuntungan lebih yang saya dapat ketimbang sekedar berkenalan dan berbincang ringan adalah kami bertukar nomor ponsel dan juga dia memberi beberapa informasi mengenai lowongan pekerjaan. Luar biasa, ini adalah contoh keuntungan yang dapat ditemukan dalam lingkungan sosial. Coba bayangkan, jika dalam sebuah kesempatan saya bertemu dengan orang lain yang secara ajaib bisa memberi saya peluang kerja yang begitu besar. Selain itu, fenomena ini tidak bisa kita temukan dalam situs jejaring sosial seperti facebook. Melalui facebook, kita tidak bisa berinteraksi dengan teman secara langsung (face to face). Salah satu kenikmatan dari berkomunikasi adalah ketika kita juga bisa menatap dan memperhatikan gesture lawan bicara kita. Apalagi jika dilakukan sambil minum kopi atau berjalan-jalan ke suatu tempat.

Tuesday, November 24, 2009

Tragedi XXI

Pipi kita merona merah dalam kegelapan
Kita saling tersenyum janggal
Sambil malu kita tak ambil pusing
Tak berpikir panjang akan konsekuensi
Terserah nanti kau akan menamparku
Atau aku akan menertawaimu

Kita menikmati ciuman itu
Seperti apel yang ranum
Manis dan basah
Begitu terasa saat ku gigit bibir mungilmu
Dan kemudian kau pun membalasnya

Kita nikmati itu beberapa menit
Tiga kali kita mengulangnya
Dalam gelap
Kita mengacuhkan Toby dan teman-temannya
Demi keegoisan kita
Demi dunia yang ingin kita ciptakan bersama
Demi aku
Demi dirimu
Demi kita
Demi masa

14 November 2009

Mekar Bunga di Penghujung Musim Panas

Adakah takdir selalu konstant? Ah, tidak juga katanya? Apapun bisa terjadi, semua mungkin terjadi. Tergantung pada hubungan sebab dan akibat...